Friday, October 16, 2020

Menjadi Single

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik kesepuluh: Menjadi Single 

Dalam masyarakat Indonesia, dan sebagian AS, menjadi single bukan suatu pilihan. Ada expectancy bahwa seorang dewasa yang sehat fisik dan mental harus menikah dan mempunyai anak. Tuntutan itu lebih kuat terhadap perempuan. Banyak gosip yang miring tentang single men, terlebih single women; dari yang 'pasti sifatnya tidak baik' sampai 'suka pilih-pilih.' Oleh karena itu, semua orang berusaha membantu mencarikan pasangan. Dalih mereka 'oh tidak baik jadi omongan orang,' 'oh banyak godaan kalau single.' Mereka percaya bahwa maksud mereka baik dan menjodoh-jodohkan orang itu okay. Orang terlalu turut campur dalam urusan pribadi orang lain. Mungkin di AS tidak separah di Indonesia.

Tekanan masyarakat itu saya alami sendiri. Pertengahan tahun 1990an saya sudah bekerja, cukup mapan, bisa mendapat KPR untuk membeli rumah kecil di pinggiran kota asal saya. Secara finansial, saya mandiri, setiap bulan ada sejumlah uang untuk ditabung, ada juga pos untuk membantu ibu dan bapak. Tetangga, kenalan, saudara jauh, penumpang sebangku di bis mendorong saya untuk segera menikah, apalagi, saya sudah punya pacar waktu itu. What the hay! 

Saya tenang saja menghadapi tekanan sosial seperti itu. Mereka tidak tahu apa yang ada di hati dan pikiran saya dan mereka juga tidak perlu tahu. Mereka tidak tahu karena satu dan lain hal saya tidak siap untuk menikah. Mereka tidak tahu kalau saya punya keinginan untuk studi lanjut. Mereka tidak tahu kalau saya bahagia dengan situasi saya saat itu. Dan yang paling menenangkan saya, bapak ibu kakak-kakak dan adik saya mendukung saya 100%. Saya menikmati menjadi single

Saya berharap menjadi single merupakan suatu pilihan. Masyarakat seharusnya tidak mengharapkan orang untuk menikah. Biarkan mereka menjalani hidup mereka masing-masing sesuai dengan rencana dan keinginan hati mereka. Masyarakat seharusnya memperlakukan single dan non-single secara adil. Semoga.


Friday, October 2, 2020

Untuk Sebuah Nama (yang Dirindukan)

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik kesembilan: Untuk Sebuah Nama (yang Dirindukan)

Topik ini mengingatkan aku pada salah satu lagu Ebiet G. Ade "Untuk Sebuah Nama." Liriknya menggambarkan rasa cinta yang tulus dan kerinduan yang menggelora. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan. Cinta mesti berkorban.

Lagu itu mengingatkan aku pada seseorang yang meninggalkan kesan mendalam dalam hatiku. Dia yang menumbuhkan cinta, yang menurutku sejati, nan indah. Cinta yang ditopang persahabatan. Seperti Ebiet rinduku kadang juga menggelora; ingin bertemu dan bercanda dengan dia layaknya anak SMA. Seperti Ebiet, aku juga tidak harus memiliki. Tetapi, tidak seperti Ebiet, aku tidak merasa berkorban sama sekali. Proses perasaan hatiku kepadanya mendewasakan. Aku sincerely turut bahagia melihat dia dan keluarganya bahagia.

Mencintai dia dulu dan bersahabat dengan dia sekarang merupakan karunia bagiku. 

Sunday, September 27, 2020

Surat untuk Seseorang

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik kedelapan: Surat untuk Seseorang

Untuk topik hari ini saya tidak akan menulis surat. Sebagai gantinya saya akan menulis tentang menulis surat untuk seseorang, atau tepatnya bapak dan ibu saya.

Beberapa tahun pertama saya di AS mungkin sebulan dua kali saya menulis surat untuk bapak dan ibu saya. Waktu itu telepon internasional masih terlalu mahal untuk ukuran mahasiswa. Di samping itu, hubungan internet belum begitu populer sehingga juga mahal dan orangtua saya tidak mempunyai komputer atau HP.

Isi surat-surat saya tidak terlalu penting. Biasanya saya bercerita tentang kegiatan kuliah dan acara-acara dengan teman-teman mahasiswa lain. Kadang-kadang saya juga menulis tentang perjalanan liburan, hiking, atau apa saja selama liburan. Saya sering menyertakan foto-foto untuk pengobat rindu bapak, ibu, dan simbah, nenek saya. Atau mungkin menulis surat untuk mereka merupakan obat rindu saya kepada mereka.

Beberapa tahun kemudian ketika saya mudik, ibu memberikan beberapa album berisi foto-foto yang saya kirimkan. Wah..banyak sekali dan banyak yang saya tidak punya copynya, karena hanya mencetak 1 lembar per foto. 

Sekarang saya tidak menulis surat lagi. Saya menelpon ibu, bapak dan simbah sudah meninggal, lewat Skype seminggu sekali atau dua kali. Kami omong-omong berjam-jam. Saya juga tidak mengirim foto (hard copy) lagi. Foto-foto saya unggah di grup WA keluarga dan kakak atau keponakan saya menunjukkan foto-foto itu kepada ibu.

Oh..betapa tehnologi komunikasi sudah berubah banyak. Berbagai apps media sosial dan surat elektronik sudah menggantikan surat. Sekarang mungkin sudah tidak ada lagi orang yang menulis surat.

Saturday, September 26, 2020

Mantan Terparah

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik ketujuh: Mantan Terparah

Sama dengan topik keenam, sulit untuk menulis tentang mantan terparah kalau hanya punya 1 mantan, 2 kalau suami dihitung.

Saya kira, selain cinta (untuk yang percaya pada cinta), ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu hubungan harus diakhiri. Pertama, kalau tidak ada rasa saling percaya. Kepercayaan kepada satu sama lain harus dibangun dengan tulus. Percaya bahwa pasangan kita menghargai dan menghormati kita. Percaya bahwa kebaikanlah yang akan muncul dari hubungan tersebut. Dengan begitu, kepercayaan menumbuhkan penghargaan, hormat, dan kesetiaan kepada pasangan. 

Ketiadaan atau kurangnya komunikasi juga memperburuk hubungan. Masalah pasti timbul karena dua individu berbeda berusaha untuk membangun kebersamaan. Tetapi, tidak berarti tidak ada solusi atas masalah tersebut. Dengan membicarakan penyebab, perasaan hati, dan variabel lain secara terbuka dengan kepala dingin, niscaya ada jalan keluar untuk setiap keruwetan.

Hubungan yang harmonis menuntut kesadaran bahwa kita tidak sendiri, bahwa kita bukanlah the center of the universe. Ini berarti mengerti, atau paling tidak terus mencoba mengerti, siapa pasangan kita dengan utuh. Menjalin hubungan dengan pasangan seperti tak henti-hentinya belajar tentang diri kita sendiri, tentang bagaimana kita menerima diri kita sendiri, dan pada gilirannya mampu menerima pasangan kita apa adanya. Dan, berdua tumbuh menjadi individu yang lebih baik dan pasangan yang kokoh. 

Halah...ngecap! :)  Intinya, selalu ada hikmah dari setiap perjumpaan, baik atau pun buruk, dengan orang lain. 


Friday, September 25, 2020

Mantan Terindah

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik keenam: Mantan Terindah

Topik kali ini sulit sekali. Untuk bisa memakai awalan ter- yang semakna dengan paling, minimal harus ada 3 hal/orang yang diperbadingkan. Nah, hal itu tidak mungkin mengingat saya hanya sempat punya 1 pacar. Kalaupun suami saya dihitung sebagai mantan pacar, hanya ada 2 mantan. So, ter- tetap tidak bisa digunakan. 

Dari dua mantan itu jelas suami saya jauh lebih cocok untuk saya. Saya memakai kata cocok, bukan baik. Pertama karena Nona hanya memilih orang baik untuk menjadi pacarnya (wink wink) dan pada dasarnya saya percaya setiap orang itu baik. Having said that, pacar kedua saya mampu memotivasi, mendorong, dan me- me- yang lain sehingga potensi kebaikan saya muncul, atau paling tidak terpikirkan oleh saya. Saya merasa menjadi individu yang lebih instropektif, lebih utuh. 

Selain itu, kami bisa berkomunikasi dengan mudah. Setiap masalah, ganjalan hati, dll. kami bicarakan dengan terbuka, walaupun kadang-kadang dengan emosi juga. Namun, yang paling penting setelah argumen selesai tidak ada rasa-rasa negatif lagi. To tell the truth, saya tidak bisa marah lama kepada dia. 

Ada komunikasi hati ada juga komunikasi otak. Dengan mantan ini rasanya otak saya lebih terangsang, bekerja lebih banyak. Saya harus sering beradu pandangan dan kami sering berbagi pengetahuan. Dalam percakapan akademis, tidak ada jawaban 'I don't know,' karena Anda pasti tahu sesuatu. Kalau tidak, cobalah membuat analisa, mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan, atau apalah. Pokoknya, just say something.

Well, saya kok malah menulis tentang suami saya. Tetapi, untuk memenuhi topik tulisan hari ini saya bersaksi dengan sejujurnya bahwa saya tidak mempunyai mantan terindah. Hanya mantan lebih indah.

Thursday, September 24, 2020

Cinta Pertama

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik kelima: Cinta Pertama

Saya tidak percaya dengan 'cinta pada pandangan pertama.' Saya mungkin Jawa asli, penganut 'witing tresno jalaran saka kulina.' Di SMP saya melihat dia, lupa kapan berkenalan. Dia menarik perhatian saya pertama karena badannya yang lebih tinggi daripada teman sebaya lain. Karena itu sering saya mengamati gerak-geriknya. Ternyata dia pandai dan lucu. Dua hal yang saya sukai pada seseorang. Itu saja tidak cukup. Saya mengenal dia dengan lebih baik di kelas 3 SMP ketika sekelas. Jam-jam bersama di perpustakaan saat pelajaran agama Islam (siswa nasrani harus di perpustakaan. Kelas agama kami pada hari Jumat sesudah jam sekolah selesai. Sungguh tidak adil. Tapi ini topik tulisan lain) merupakan moment terindah. Tentu saat itu dia tidak tahu ada cinta di hati saya. Cinta yang polos menggebu-gebu sampai literally sakit di pulung ati.

Hari pertama di SMA saya senang sekali melihat dia di antara teman-teman lama seSMP dan baru. Dengan sifat introvert saya dan keyakinan bahwa tidak elok  bagi perempuan Jawa untuk menunjukkan perasaannya, apalagi perasaan cinta, saya berusaha sedemikian rupa supaya dia tahu cinta ini. Saya ikut kegiatan ekstra kurikuler dan kegiatan lain yang dia ikuti. Waktu jam istirahat, saya pura-pura nengok teman baik saya yang sekelas dengan dia. Pulang sekolah saya jalan lewat rutenya. Kami dengan beberapa teman lain berjalan di sepanjang Jl. Diponegoro. Apalah artinya berjalan 1 - 2 km lebih jauh. Demi cinta, itu bukan apa-apa.

Lebih senang lagi ketika tahu dia juga kuliah di kampus yang sama dengan saya. Dari dalam kelas, sering saya lihat dia duduk di bawah pohon flamboyan, sedang istirahat dengan teman-temannya. Kadang-kadang saya ikut duduk-duduk di sana. Pertemuan-pertemuan kecil di depan perpustakaan, di depan kampus, menjadi hal yang saya tunggu-tunggu. Pernah mendapat kesempatan untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada dia. Serasa melayang ketika dia terkejut saya tahu hari ulang tahunnya. Seperti waktu SMA, dia kadang-kadang main ke rumah saya.

Kami memang tidak pernah pacaran. Tapi, kami pernah berjalan bergandengan tangan. Sesudah dia menyelesaikan programnya, kami kehilangan kontak. Bertahun-tahun kemudian, thanks to internet and Facebook, saya bertanya apakah dia tahu kalau dulu saya mencintai dia. Dia bilang ya. Sungguh hati saya berbunga-bunga. Saya tidak pernah bertanya apakah dia juga mencintai saya. Dari percakapan-percakapan kami sesudah itu saya tahu dulu dia punya sesuatu untuk saya; entah cinta, atau like saja. Itu cukup untuk saya. Kami masih berteman baik sampai sekarang.

Your first love will always have a special place in your heart. - inspiring-pictures.com

Wednesday, September 23, 2020

Tentang Sahabat

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik keempat: Tentang Sahabat

Jujur saya akui tidak mudah bagi saya untuk mendapat teman, apalagi sahabat. Saya selalu merasa takut dekat dengan orang lain. Saya khawatir teman itu akan menceritakan kelemahan dan kekurangan saya ke mana-mana. Selain itu, saya tidak percaya diri kalau saya bisa menjadi teman, atau sahabat, untuk orang lain.

Walaupun begitu, saya mempunyai beberapa teman akrab di sepanjang hidup saya.

Di SD dari kelas 1 sampai awal kelas empat saya dekat dengan Surani. Kami dekat karena sekelas dan bertetangga. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Kami juga bermain bersama. Suatu kali kami bermain di dapur rumah saya yang cukup besar. Karena tidak hati-hati, saya menumpahkan sayur tumpang jualan nenek saya. .... Saya senang sekali ketika pelajaran memasak dan saya satu grup dengan Surani. Dia pintar memasak. Saya rasa dia lebih dewasa daripada saya. Mungkin karena itu kami cocok.

Awal kelas 4 SD keluarga saya pindah rumah. Teman dekat saya sejak itu sampai kelas 6 SD Eni. Dia juga teman sekelas dan tetangga saya. Sore hari, hari Minggu, atau saat liburan, saya bermain di rumah Eni. Kami mendengarkan sandiwara radio, omong-omong di bawah pohon kelengkeng depan rumahnya. Saya belajar naik sepeda dengan meminjam sepeda Eni. Eni juga lebih dewasa daripada saya. Dia anak sulung dari enam bersaudara. Dia sering membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan saya kadang-kadang membantu. Saya ingat kalau ibu Eni membuat kopi, sesudah selesai digoreng kami diberi semangkung kecil bubuk kopi yang ditambahi gula. Hmmm ... enak sekali. Selepas SD kami melanjutkan ke SMP berbeda,

Semasa SMP saya sering udrang-udrung naik sepeda motor dengan Dino dan Dian. Kami nongkrong di rumah Dino atau Dian. Kadang-kadang kami pergi ke waktu itu satu-satunya supermarket di kota kami dan mencoba beberapa parfum di sana. Sering tidak membeli apa-apa. Kami juga sering mampir di stasiun radio Zenith untuk minta lagu. Salah satu kejadian yang saya selalu ingat waktu kami main ke rumah Sinta di Jl. Osamaliki. Kami pinjam beberapa novelnya - Lima Sekawan, Trio Detektif, dll.- dan dalam perjalanan pulang hujan deras. Kami terus memacu sepeda motor kami tanpa menghiraukan bahwa kami basah kuyub. Lulus SMP, saya tetap di Salatiga. Sedangkan Dino bersekolah di Semarang dan Dian dan keluarganya pindah ke luar kota.

Di SMA saya akrab dengan Ana. Kami bertetangga dan sekelas, bahkan sebangku. Ana pandai sekali, pandai memasak, sedikit keras dan sinis - sifat yang saya suka dan tidak sering saya temui. Kami berjalan ke sekolah dan pulang bersama. Teman-teman sering bergurau dengan memanggil kami Nona Ana - sangat tepat ya. Kami juga segereja. Jadi, sering bareng ikut latihan koor dan kegiatan lingkungan Mangunsari. Sesudah lulus, Ana kulish di Jakarta sementara saya tetap di Salatiga.

Di UKSW saya bersahabat dengan Irene dan Evi, sampai sekarang. Irene pandai sekali dan mahasiswa perfeksionis. Dia kuliah sambil kerja memberi les organ pada akhir pekan. Pada setiap ulang tahun saya, Irene selalu tanya saya minta hadiah apa. Oh..suatu kemewahan. Evi lebih santai dan lucu. Dia pemalu tapi berani. Kalau longgar tidak ada kelas atau weekend kadang saya main ke kos-kosan Evi di Jend. Sud. Dia jarang mudik. Entah mengapa kami bertiga tidak pernah bersama; hanya saya dengan Irene dan saya dengan Evi. Selesai S1, Irene dan Evi mendapat pekerjaan di Jakarta. Saya tetap di Salatiga.

Di Ohio saya dekat dengan Mila, sampai sekarang. Dia aktivis yang berani dan kritis, pandai memasak, keras kepala, penuh energi. Kami bisa berjam-jam omong-omong di telpon atau di kampus. Ceritanya banyak sekali. Kalau kami bepergian, dia serahkan navigasi kepada saya. Dia nggak mau urusan pergi ke obyek turis apa, naik apa, dll. seperti itu. Tapi, waktu di Jakarta dia navigator yang hebat. Sehabis kuliah saya kelar, saya pindah ke Arlington, VA. Mila pindah ke Jakarta setahun kemudian, kalau saya tidak salah.

Mereka teman baik saya. Saya bersyukur bisa mengenal dan mereka kenal. Tentang sahabat, saya menemukan satu, akhirnya. Suami saya.

Tuesday, September 22, 2020

Ibu dan Bapak

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik ketiga: Ibu dan Bapak.

Sutarni lahir di Solo. Sesudah tamat SD, dia melanjutkan sekolah di Sekolah Guru B (SGB) di Sragen. Dia ikut keluarga pamannya karena ibunya sudah janda dan tidak mampu membiayai sekolahnya. Sesudah tamat SGB, dia dibenum di daerahBanyumas. Dia mengajar SD di sana selama beberapa tahun. Ketika benumnya selesai, dia pindah mengajar di Pabelan, kabupaten Semarang, lalu di 2 SD lain di Salatiga sampai pensiun. 

Sutarni keras kepala, lucu, tabah, tangguh dan tegar. Tidak mudah membesarkan 5 anak dengan penghasilan keluarga yang pas-pasan. Namun dia bereinginan keras bahwa anaknya semua mendapat pendidikan yang baik dan berhasil. Tiga anak pertamanya dia sekolahkan di sekolah swasta Katholik. Dengan pinjaman bank kelima anaknya berhasil menempuh pendidikan di perguruan tinggi. 

Di masa pensiunnya sekarang, Sutarni aktif di gereja, PKK, dasawisma, dan PWRI. Dia senang berkebun di sepetak tanah yang dia beli dengan pesangon pensiunnya. Di waktu senggangnya dia juga senang menonton TV. Dia dikaruniai 10 cucu (sayangnya 1 sudah meninggal), dan 6 buyut.


Sutomo lahir dan besar di Sragen. Keluarganya termasuk kaya dan muslim yang taat. Dia rajin mengaji dan sesudah tamat sekolah menjadi montir alat-alat elektronik. Dia pandai dan keinginan tahunya besar sekali. Ketika televisi berwarna mulai populer, dia mempelajari sistemnya sendiri dengan membaca buku-buku. Dia suka sekali bepergian, menjelajah tempat-tempat baru sering dengan naik sepeda. Dia suka memancing dan berenang. Dia sangat berbakat dalam musik. Pernah memimpin orkes yang seminggu sekali tampil di panggung Tamansari, Salatiga. Dia bermain sexophone dan membuat aransemen lagu-lagu yang dimainkan orkesnya. Dia membuat seruling sendiri dari pipa plastik.

Sutomo pendamping setia Sutarni. Mereka berkenalan di Sragen. Waktu itu Sutarni main ke rumah teman sekelasnya Sutini, adik Sutomo. Karena Sutarni Katholik, keluarga Sragen sempat mengucilkan keluarga baru itu. Sutarni dituduh mempengaruhi Sutomo untuk meninggalkan agama Islam. Padahal, Sutomo sendiri yang mengalami perubahan hati dan selama bertahun-tahun mencari jalan yang cocok. Sampai baru pada tahun 90-an dia memutuskan untuk dibaptis secara Katholik, tanpa ajakan ataupun bujukan Sutarni. Sutomo meninggal pada tahun 2003.

Sutarni dan Sutomo, ibu dan bapakku, teladanku. Baik dan buruk, kurang dan lebih harus selalu disyukuri.  




 

Sunday, September 20, 2020

Cerita tentang Saudara Kandung

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik kedua: Cerita tentang Saudara Kandung

Bapak dan ibu mempunyai 5 anak; 4 perempuan dan si bungsu laki-laki. Kakak sulung, beda 7 tahun dengan saya, adalah penegak tata tertib. Dia memastikan kami bangun pagi, ganti pakaian sesudah pulang sekolah, pergi ke gereja, dll. Dia sosok yang sangat rajin, pandai, supel, sangat aktif di organisasi sekolah, gereja, dan kemasyarakatan. Dia tidak canggung berdiri dan berbicara di depan orang banyak. Jadi, sering dijadikan MC di acara apa saja. 

Kakak kedua sedikit tomboy. Dari cerita-cerita bapak dan ibu, dia sering membuat onar di sekolah sejak TK. Orangnya super sabar,santai, tangguh, penuh pengertian, dan berani. Dia suka sekali berenang. Selalu siap dengan pakaian ekstra kalau bepergian. Jadi, kalau sewaktu-waktu menemui sungai, air terjun, kolam renang, dia pasti terjun ke dalamnya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, dia seekor ikan.

Kakak ketiga pendiam. Dia juga aktif berorganisasi baik di gereja maupun di kampung/kotanya. Sangat rajin dan sabar. Ibu memuji kedisiplinannya dalam mengatur waktu. Ketika kami remaja, dia yang paling suka bersolek, walupun masih dalam batas-batas kewajaran. Dia suka model dan warna pakaian serta asesori yang sedikit menyolok untuk selera saya. Dia disukai banyak teman laki-lakinya. Jadi, dia punya beberapa pacar dan pengagum yang sering mampir ke rumah. 

Adik saya sabar, penuh pengertian, dan kritis. Sejak kecil dia punya pendirian sendiri. Jadi, tidak pernah terlihat grudak-gruduk tanpa tujuan dengan teman sebayanya. Dia selalu melihat the big picture of everything. Dia suka belajar dan mencoba hal-hal baru, apalagi setelah ada internet, seperti pertukangan dan konstruksi bangunan, bercocok tanam, beternak.

Masa kecil kami bisa dikatakan bahagia. Walaupun penghasilan bapak dan ibu pas-pasan, kami masih mempunyai mainan, baju baru setiap lebaran, dan keperluan dasar lain - terutama kebutuhan untuk sekolah. Kami bermain bersama - monopoli, ludo, catur, halma, badminton, dll.- saling membantu, dan tidak pernah bertengkar, sampai sekarang. Seperti nama kami 'Kurnia,' kami sangat terberkati.



Saturday, September 19, 2020

30 Hal yang Orang Lain Tidak Ketahui tentang Saya

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik pertama: 30 Hal yang Orang Lain Tidak Ketahui tentang Saya

1. Saya terkesan sombong, padahal saya hanya introvert.

2. Saya merasa sangat terganggu ketika berjalan di depan seseorang yang suara sepatunya keras menyentuh trotoar. Saya merasa dikejar-kejar. Dalam situasi seperti itu biasanya saya memperlambat jalan saya supaya orang di belakang saya itu, biasanya perempuan dengan sepatu kulit hak tinggi, bisa mendahului saya. Di belakangnya, saya mengagumi sepatunya secara saya tidak bisa memakai sepatu hak tinggi.

3. Saya juga merasa sangat terganggu ketika berjalan di belakang orang yang merokok, termasuk yang vaping. Siapa yang nggak sih? Mungkin  sesama perokok. Dalam situasi seperti itu biasanya saya berjalan melebar ke kiri atau kanan kalau trotoarnya cukup lebar. Kalau tidak, saya terpaksa menyeberang jalan.

4. Berhubungan dengan nomor 3, sense of smell saya kuat - tapi perbandingannya hanya dengan suami saya. 

5. Masih tentang perokokan.  Saya belum pernah merokok. Satu hisap pun belum pernah. Kalau second hand smoker sering

6. Saya benci cerita dan lelucon yang berhubungan dengan kegiatan di toilet. Menjijikkan.

7. Sejak kira-kira 22 tahun lalu saya mencoba untuk tidak mengeluh, bahkan sekedar, "Ah udaranya panas sekali." Penyebabnya: ada yang berkata mengeluh merupakan salah satu tanda kelemahan karakter seseorang. Tetapi yang lebih penting, keluhan kita mungkin menyebabkan ketidaknyamanan orang yang kita ajak bicara, atau yang mendengar keluhan itu. So, I'll try to keep my complains to myself.

8. Saya lebih suka udara dingin daripada panas. Lebih tidak suka lagi udara lembab.

9. Makanan kesukaan saya bakmi goreng, tapi bakminya yang gepeng, dan tahu isi - kalau di Jawa namanya tahu susur. Sebenarnya saya suka semua jenis gorengan. Selain itu, makan dengan kerupuk terasa lebih enak. Potato chips bisa dipakai sebagai ganti kerupuk. Rasanya jelas berbeda, tetapi bunyi renyahnya di mulut bisa menggantikan kenikmatan renyak kerupuk. Tak ada kerupuk, potato chips pun jadi.

10. Sejak Desember 2017 saya membaca dan merekam bacaan Injil harian berdasarkan kalender gereja Katholik. Rekaman itu saya unggah di beberapa grup WA, salah satunya kelompok "Waosan Injil Basa Jawi."

11. Saya suka film horor, fantasi, atau jenis lain yang ceritanya tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Saya menonton film untuk menghibur diri, 'lari' dari kenyataan selama kurang lebih 1,2 jam. 

12. Saya suka novel sejarah, misteri, fantasi, juga novel pertemuan dua budaya atau lebih.

13. Aktor dan aktris favorit Tom Cruise, Harrison Ford, Johnny Depp, Winona Ryder, Pierce Brosnan, Didi Petet. Kok ceweknya cuma satu, ya.

14. Kalau saya tidak menjadi guru, saya ingin menjadi pustakawan.

15. Saya orang malam tetapi harus bangun pagi karena dunia ini sepertinya diciptakan untuk orang pagi. Tidak adil memang, tapi mau protes kepada siapa?

16. Saya Katholik tapi menurut suami saya bukan karena saya tidak mengikuti ataupun percaya pada beberapa (tidak banyak), dan tidak peduli pada sebagian ajaran gereja Katholik.

17. Di Indonesia saya belajar bahasa Inggris dengan menonton soap opera, sitcom, dan film-film seri Hollywood.  

18. Waktu saya kecil hanya ada satu saluran TV - TVRI - dan saya menonton sampai acara terakhir selesai, jam 24.00. Saya mempunyai buku tulis yang isinya daftar produk yang diiklankan TVRI. Saya memberi centang di sebelah nama produk setiap kali iklan produk itu ditayangkan.

19. Saya sabar tapi keras kepala dan mau menang sendiri. 

20. Sampai sekarang saya punya safety blanket. Waktu kecil safety blanket saya berupa sapu tangan, lalu sarung bantal. Sarung bantal itu buatan mbak Royanawati, kakak sepupu saya. Di satu sisi sarung bantal merah muda itu ada bordiran tangan mbak Wati yang berbunyi, "Selamat tidur sayang." Sempat tidak punya safety blanket selama kira-kira setahun, dari sebelum saya berangkat ke AS, September 1997. Spring break 1998 saya berlibur ke NY. Ketika saya membuka koper saya, di dalamnya ada kartu dan stuffed animal dari Paul, pacar saya. Sejak itu, saya punya safety blanket lagi.

21. Saya tidak pandai memasak. Teman-teman di AS berkata mereka juga tidak bisa memasak waktu pindah ke AS. Karena terpaksa - jajan di luar mahal dan kangen makanan Indonesia, mereka menjadi terbiasa dan pandai memasak. Sayangnya, it does not happen to me.

22. Saya kagum sekali kepada orang-orang yang berbakat musik; pandai bermain alat musik, mempunyai suara bagus dan pandai menyanyi. Awal tahun 90-an saya belajar bermain gitar. Saya bisa memainkan beberapa lagu dengan membaca cordnya. Tetapi saya tahu saya tidak berbakat musik ketika saya tidak bisa ganti kunci dengan mudah.

23. Dalam karir akademik saya, saya termasuk siswa dan mahasiswa yang rajin dengan nilai bagus dan/atau memuaskan. Maaf, nyombong sedikit. Tetapi, satu kali nilai saya merah - 5 - di rapor. Nilai itu untuk kelas kerajinan tangan kelas 2 SMP. Tahun itu siswa-siswi belajar mengukir dengan berbagai media. Sepandai-pandai Nona belajar, sekali dapat nilai merah juga. (Plus jari luka kena pisau ukir.)

24. Saya benar-benar tidak menyangka saya tinggal di AS. Dulu rencananya hanya di sini 2 tahun untuk studi lanjut. Sesudah lulus, pulang ke Salatiga, mengajar di sana, dan mati di sana. Well, sebenarnya tidak banyak bedanya. Sekarang tinggal di sini, mengajar di sini, dan insyaallah mati di sana.

25. Saya kira tas tangan dan dompet menarik sekali. Di setiap tas tangan dan dompet ada kantong-kantongnya, beberapa tersembunyi. Ada yang kecil, medium, dan besar. Ada yang kantongnya terbuka, ada yang berkatup dengan kancing - kancing biasa atau kancing magnit - atau retsleting. Setiap kantong seperti menyimpan rahasia istimewa.

26. Saya pernah membaca bahwa otak yang aktif - salah satunya karena membaca - mencegah pikun dini. Jadi, saya memaksakan diri untuk membaca. 

27. Saya belajar mengendarai mobil di AS waktu saya berumur 34 tahun. Saya tidak berani mengemudi mobil di Indonesia. Bahkan menyeberang jalan pun sekarang saya takut. Ada apa dengan Indonesian traffic?

28. Mimpi-mimpi saya sangat random dan aneh. Dalam mimpi saya, suami saya bisa berbahasa Jawa sedangkan ibu saya lancar berbicara dalam bahasa Inggris. Washington, DC - Salatiga serasa Semarang - Solo. Pom bensin Tingkir, kiri Mas!

29. Seandainya dulu saya belajar menari Jawa, sekarang pasti saya sering manggung. 

30. Sesudah minum beberapa teguk bir atau anggur, saya menjadi gembira dan chatty. Tapi, tidak lama kemudian perut saya sakit.