Sunday, September 20, 2020

Cerita tentang Saudara Kandung

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik kedua: Cerita tentang Saudara Kandung

Bapak dan ibu mempunyai 5 anak; 4 perempuan dan si bungsu laki-laki. Kakak sulung, beda 7 tahun dengan saya, adalah penegak tata tertib. Dia memastikan kami bangun pagi, ganti pakaian sesudah pulang sekolah, pergi ke gereja, dll. Dia sosok yang sangat rajin, pandai, supel, sangat aktif di organisasi sekolah, gereja, dan kemasyarakatan. Dia tidak canggung berdiri dan berbicara di depan orang banyak. Jadi, sering dijadikan MC di acara apa saja. 

Kakak kedua sedikit tomboy. Dari cerita-cerita bapak dan ibu, dia sering membuat onar di sekolah sejak TK. Orangnya super sabar,santai, tangguh, penuh pengertian, dan berani. Dia suka sekali berenang. Selalu siap dengan pakaian ekstra kalau bepergian. Jadi, kalau sewaktu-waktu menemui sungai, air terjun, kolam renang, dia pasti terjun ke dalamnya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, dia seekor ikan.

Kakak ketiga pendiam. Dia juga aktif berorganisasi baik di gereja maupun di kampung/kotanya. Sangat rajin dan sabar. Ibu memuji kedisiplinannya dalam mengatur waktu. Ketika kami remaja, dia yang paling suka bersolek, walupun masih dalam batas-batas kewajaran. Dia suka model dan warna pakaian serta asesori yang sedikit menyolok untuk selera saya. Dia disukai banyak teman laki-lakinya. Jadi, dia punya beberapa pacar dan pengagum yang sering mampir ke rumah. 

Adik saya sabar, penuh pengertian, dan kritis. Sejak kecil dia punya pendirian sendiri. Jadi, tidak pernah terlihat grudak-gruduk tanpa tujuan dengan teman sebayanya. Dia selalu melihat the big picture of everything. Dia suka belajar dan mencoba hal-hal baru, apalagi setelah ada internet, seperti pertukangan dan konstruksi bangunan, bercocok tanam, beternak.

Masa kecil kami bisa dikatakan bahagia. Walaupun penghasilan bapak dan ibu pas-pasan, kami masih mempunyai mainan, baju baru setiap lebaran, dan keperluan dasar lain - terutama kebutuhan untuk sekolah. Kami bermain bersama - monopoli, ludo, catur, halma, badminton, dll.- saling membantu, dan tidak pernah bertengkar, sampai sekarang. Seperti nama kami 'Kurnia,' kami sangat terberkati.



No comments: