Tuesday, September 22, 2020

Ibu dan Bapak

Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.

Berikut topik ketiga: Ibu dan Bapak.

Sutarni lahir di Solo. Sesudah tamat SD, dia melanjutkan sekolah di Sekolah Guru B (SGB) di Sragen. Dia ikut keluarga pamannya karena ibunya sudah janda dan tidak mampu membiayai sekolahnya. Sesudah tamat SGB, dia dibenum di daerahBanyumas. Dia mengajar SD di sana selama beberapa tahun. Ketika benumnya selesai, dia pindah mengajar di Pabelan, kabupaten Semarang, lalu di 2 SD lain di Salatiga sampai pensiun. 

Sutarni keras kepala, lucu, tabah, tangguh dan tegar. Tidak mudah membesarkan 5 anak dengan penghasilan keluarga yang pas-pasan. Namun dia bereinginan keras bahwa anaknya semua mendapat pendidikan yang baik dan berhasil. Tiga anak pertamanya dia sekolahkan di sekolah swasta Katholik. Dengan pinjaman bank kelima anaknya berhasil menempuh pendidikan di perguruan tinggi. 

Di masa pensiunnya sekarang, Sutarni aktif di gereja, PKK, dasawisma, dan PWRI. Dia senang berkebun di sepetak tanah yang dia beli dengan pesangon pensiunnya. Di waktu senggangnya dia juga senang menonton TV. Dia dikaruniai 10 cucu (sayangnya 1 sudah meninggal), dan 6 buyut.


Sutomo lahir dan besar di Sragen. Keluarganya termasuk kaya dan muslim yang taat. Dia rajin mengaji dan sesudah tamat sekolah menjadi montir alat-alat elektronik. Dia pandai dan keinginan tahunya besar sekali. Ketika televisi berwarna mulai populer, dia mempelajari sistemnya sendiri dengan membaca buku-buku. Dia suka sekali bepergian, menjelajah tempat-tempat baru sering dengan naik sepeda. Dia suka memancing dan berenang. Dia sangat berbakat dalam musik. Pernah memimpin orkes yang seminggu sekali tampil di panggung Tamansari, Salatiga. Dia bermain sexophone dan membuat aransemen lagu-lagu yang dimainkan orkesnya. Dia membuat seruling sendiri dari pipa plastik.

Sutomo pendamping setia Sutarni. Mereka berkenalan di Sragen. Waktu itu Sutarni main ke rumah teman sekelasnya Sutini, adik Sutomo. Karena Sutarni Katholik, keluarga Sragen sempat mengucilkan keluarga baru itu. Sutarni dituduh mempengaruhi Sutomo untuk meninggalkan agama Islam. Padahal, Sutomo sendiri yang mengalami perubahan hati dan selama bertahun-tahun mencari jalan yang cocok. Sampai baru pada tahun 90-an dia memutuskan untuk dibaptis secara Katholik, tanpa ajakan ataupun bujukan Sutarni. Sutomo meninggal pada tahun 2003.

Sutarni dan Sutomo, ibu dan bapakku, teladanku. Baik dan buruk, kurang dan lebih harus selalu disyukuri.  




 

No comments: