Seorang teman Facebook mengunggah ajakan menulis 30 hari 30 tulisan LIKE (Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif), dari 14 September - 13 Oktober 2020. Saya tertarik untuk mengikuti ajakan itu karena walaupun saya tidak pandai menulis saya selalu ingin menulis. Saya mulai terlambat tetapi saya akan berusaha untuk menulis satu topik setiap hari sampai 30 hari ke depan.
Berikut topik keempat: Tentang Sahabat
Jujur saya akui tidak mudah bagi saya untuk mendapat teman, apalagi sahabat. Saya selalu merasa takut dekat dengan orang lain. Saya khawatir teman itu akan menceritakan kelemahan dan kekurangan saya ke mana-mana. Selain itu, saya tidak percaya diri kalau saya bisa menjadi teman, atau sahabat, untuk orang lain.
Walaupun begitu, saya mempunyai beberapa teman akrab di sepanjang hidup saya.
Di SD dari kelas 1 sampai awal kelas empat saya dekat dengan Surani. Kami dekat karena sekelas dan bertetangga. Kami berangkat dan pulang sekolah bersama. Kami juga bermain bersama. Suatu kali kami bermain di dapur rumah saya yang cukup besar. Karena tidak hati-hati, saya menumpahkan sayur tumpang jualan nenek saya. .... Saya senang sekali ketika pelajaran memasak dan saya satu grup dengan Surani. Dia pintar memasak. Saya rasa dia lebih dewasa daripada saya. Mungkin karena itu kami cocok.
Awal kelas 4 SD keluarga saya pindah rumah. Teman dekat saya sejak itu sampai kelas 6 SD Eni. Dia juga teman sekelas dan tetangga saya. Sore hari, hari Minggu, atau saat liburan, saya bermain di rumah Eni. Kami mendengarkan sandiwara radio, omong-omong di bawah pohon kelengkeng depan rumahnya. Saya belajar naik sepeda dengan meminjam sepeda Eni. Eni juga lebih dewasa daripada saya. Dia anak sulung dari enam bersaudara. Dia sering membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan saya kadang-kadang membantu. Saya ingat kalau ibu Eni membuat kopi, sesudah selesai digoreng kami diberi semangkung kecil bubuk kopi yang ditambahi gula. Hmmm ... enak sekali. Selepas SD kami melanjutkan ke SMP berbeda,
Semasa SMP saya sering udrang-udrung naik sepeda motor dengan Dino dan Dian. Kami nongkrong di rumah Dino atau Dian. Kadang-kadang kami pergi ke waktu itu satu-satunya supermarket di kota kami dan mencoba beberapa parfum di sana. Sering tidak membeli apa-apa. Kami juga sering mampir di stasiun radio Zenith untuk minta lagu. Salah satu kejadian yang saya selalu ingat waktu kami main ke rumah Sinta di Jl. Osamaliki. Kami pinjam beberapa novelnya - Lima Sekawan, Trio Detektif, dll.- dan dalam perjalanan pulang hujan deras. Kami terus memacu sepeda motor kami tanpa menghiraukan bahwa kami basah kuyub. Lulus SMP, saya tetap di Salatiga. Sedangkan Dino bersekolah di Semarang dan Dian dan keluarganya pindah ke luar kota.
Di SMA saya akrab dengan Ana. Kami bertetangga dan sekelas, bahkan sebangku. Ana pandai sekali, pandai memasak, sedikit keras dan sinis - sifat yang saya suka dan tidak sering saya temui. Kami berjalan ke sekolah dan pulang bersama. Teman-teman sering bergurau dengan memanggil kami Nona Ana - sangat tepat ya. Kami juga segereja. Jadi, sering bareng ikut latihan koor dan kegiatan lingkungan Mangunsari. Sesudah lulus, Ana kulish di Jakarta sementara saya tetap di Salatiga.
Di UKSW saya bersahabat dengan Irene dan Evi, sampai sekarang. Irene pandai sekali dan mahasiswa perfeksionis. Dia kuliah sambil kerja memberi les organ pada akhir pekan. Pada setiap ulang tahun saya, Irene selalu tanya saya minta hadiah apa. Oh..suatu kemewahan. Evi lebih santai dan lucu. Dia pemalu tapi berani. Kalau longgar tidak ada kelas atau weekend kadang saya main ke kos-kosan Evi di Jend. Sud. Dia jarang mudik. Entah mengapa kami bertiga tidak pernah bersama; hanya saya dengan Irene dan saya dengan Evi. Selesai S1, Irene dan Evi mendapat pekerjaan di Jakarta. Saya tetap di Salatiga.
Di Ohio saya dekat dengan Mila, sampai sekarang. Dia aktivis yang berani dan kritis, pandai memasak, keras kepala, penuh energi. Kami bisa berjam-jam omong-omong di telpon atau di kampus. Ceritanya banyak sekali. Kalau kami bepergian, dia serahkan navigasi kepada saya. Dia nggak mau urusan pergi ke obyek turis apa, naik apa, dll. seperti itu. Tapi, waktu di Jakarta dia navigator yang hebat. Sehabis kuliah saya kelar, saya pindah ke Arlington, VA. Mila pindah ke Jakarta setahun kemudian, kalau saya tidak salah.
Mereka teman baik saya. Saya bersyukur bisa mengenal dan mereka kenal. Tentang sahabat, saya menemukan satu, akhirnya. Suami saya.
No comments:
Post a Comment