Thursday, September 28, 2017

Turut Berd(s)uka Cita

Kemarin saya mendapat berita duka. Seorang teman meninggal dunia karena sakit. Di comment box teman yang posting berita duka tersebut saya tuliskan ucapan berduka cita. Sebetulnya saya salah tulis. Untung, saya cek sebelum klik 'post.' Satu huruf yang saya betulkan: s menjadi d. Jadi, bukan 'turut bersuka cita' melainkan 'turut berduka cita.' (Kesalahan yang sering terjadi kalau menulis di smartphone; huruf s bersebelahan dengan huruf d, sementara keyboard kecil dan ibu jari besar :))
 
Sungguh suka dan duka dalam kehidupan sangat tipis bedanya. Satu hari kita bersuka dan hari berikutnya berduka. Bahkan bisa dalam hitungan menit atau jam. Begitu seterusnya. 
 
Bagi seseorang sebuah situasi membuat dia berduka. Situasi yang sama bisa membuat orang lain berduka.
 
Jadi, bagaimana sebaiknya kita menyikapinya?
 
Orang bijak bilang, janganlah berlebihan ketika sedang bersuka dan janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Ingatlah bahwa baik duka maupun suka tidak akan lama bersama kita. Segala sesuatu ada masanya; ada masa untuk berduka serta ada masa untuk bersuka.
 
Untuk engkau yang berpulang kemarin, kami - teman dan keluargamu - di sini berduka tapi kami yakin kamu bersuka di sana, di surga mulia.
 
In memoriam Aloysius Prihari Dwi Gladianto.
 
Madison, WI, 1 Agustus 2017

Thursday, August 10, 2017

Ambengan Sega Kuluban - A Tray of Rice Complete with the Side Dishes and Salad

On Saturday, July 22, 2017 at Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI) 2017 Poetry Night, I read a Javanese poem entitled "Ambengan Sega Kuluban" written by Turiyo Ragilputra. Since most of the audience did not speak any Javanese, I translated the poem into English. At the event, a student of mine read the English translation.

Here are the poems in Javanese and English.

Ambengan Sega Kuluban

Ambengan sega kuluban dieler ing tampah
Diladekake ing pasamuwan
Direncah bebarengan, kroyokan, rebutan

Ambengan sega kuluban
Ora an sing ngerti duweke sapa
Kejaba dadi pangane para wayang, para dhalang
Sing lagi lungguh methingkrang

(kidang lan truwelu, kinjeng lan kupu
Mung bisa nyawang sinambi ngeleg idu)

Ambengan sega kuluban, wis gusis dienggo pesta
Mung kari tampah ngganda amis, angganda amis
Banjur kanggo bal-balan para buta!

Kapethik saking : Antologi Geguritan Bledheg Segara Kidul
                                                                                 
                                                                           Anggitanipun Turiyo Ragilputra

That is What Friends are for

This morning in the doctor's waiting room while my husband was with the doctor, I read an article 'That is What Friends are for' in Reader's Digest (unfortunately, I did not remember when it was published). The article was a compilation of stories written by individuals whose friends helped them in many ways. It reminded me of a friend of mine.

It was 2008 when I had an ankle surgery after I broke it by slipping on black ice. At that time my husband was a teacher and taught evening classes. He usually left for work at around 2 pm and got back home at around 9:30 pm. With my leg in cast and my being under a lot of pain relieve medication, he did not want to leave me alone, especially at night. Well, how should we do it? Our relatives lived for away from us.

It worked out that I did not stay by myself. A good friend who lived about six miles away came every evening, at around 6 pm, as soon as her husband arrived home from work. She came everyday for about two weeks. She accompanied me until my husband was back. Not only that, she also brought dinner. I was, and will forever be, very grateful of what she did. 

I am blessed to have her as a friend.

Centreville, VA
May 31, 2017

Saturday, May 27, 2017

Dari Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua 19 April 2017

Ok, kita lihat cv di bidang pemerintahan kedua paslon. (Sengaja saya tidak lakukan riset. Ini dari ingatan saya saja.)
 
Paslon No. 2:
- Bupati Bangka-Belitung
- Anggota DPR
- Wakil gubernur Jakarta
- Gubernur Jakarta dengan tingkat kepuasan kerja 70an%

Paslon No. 3:
- Menteri Pendidikan Nasional, diberhentikan (banyak yang bilang dipecat) hanya sesudah setahun   lebih sedikit menjabat.

TAPI, siapa pemenangnya?

TERNYATA, Jakarta masih bodoh.

Washington, DC, 1 Mei 2017

PT KAI-ku Malang, PT KAI-ku Sayang

Saya naik kereta api pertama kali pada tahun 2005. Waktu itu keluarga kakak saya yang tinggal di Toraja sedang di Jawa. Kami bertemu di Jakarta dan sempat berekreasi di ibukota. Waktu mau pulang ke Salatiga dua keponakan pra-remaja saya minta naik kereta api karena mereka belum pernah naik kereta api. Sebenarnya saya juga belum pernah. Jadi, kami setuju.
 
Perjalanan malam sekitar 10 jam dari stasiun Jatinegara ke Tawang Semarang di kelas utama itu membuat saya berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah lagi naik kereta api. (Beruntung saya bukan tipe orang yang mudah trauma, kalau memang ada jenis itu.)
Mengapa? 
Gerbongnya penuh sesak. Banyak penumpang yang tidak mendapat tempat duduk. Mungkin mereka tidak membeli tiket resmi. Alhasih, mereka duduk dan/atau tidur di lantai. Tidak ada sejengkal lantaipun yang kosong. 
 
Selain sesak, udara di gerbong sangat panas dan lembab. Tidak ada AC. Minum air seharusnya bisa mengurangi kegerahan, tetapi saya terpaksa membatasi jumlah air yang saya minum. Kok? Saya tidak berani ke toilet. Bau kamar kecil yang tercium dari kursi saya (saya duduk di deretan tengah) memudarkan keinginan untuk ke sana. Saya beruntung lagi. Kandung kemih saya bisa diandalkan.
 
Kesesakan dan kepanasan tidak cukup menyiksa saya. Kursi di kelas utama tidak nyaman. Keras, tidak ada armrest-nya dan tidak bisa recline. Dan, lampu gerbong menyala terang benderang sepanjang perjalanan.
 
Kursi yang tidak nyaman, bau toilet yang menyengat, lampu, dan udara panas lembab membuat saya merasa tidak diperlakukan secara layak, secara manusiawi.
 
Pengalaman buruk ini serupa dengan perjalanan saya dari Surabaya ke Ujung Pandang tahun 1997 dengan Pelni (Lihat "PELNIku Sayang PELNIku Malang.")
 
TETAPI, waktu pak Ignatius Jonan menjabat sebagai dirjen perhubungan darat, saya membaca dan mendengar berbagai kemajuan dalam sektor perhubungan, terutama kereta api. Jadi waktu saya mudik Desember - Januari lalu dan mendapat kesempatan untuk ke Jakarta saya memutuskan untuk naik kereta api. Saya ingin membuktikan dengan mata kepala dan badan saya sendiri keberhasilan PT KAI. 
 
Tanggal 6 Januari saya naik kereta api Argo Anggrek Pagi dari stasiun Tawang, Semarang. Pertama-tama, begitu memasuki stasiun Tawang saya terkejut dan kagum melihat kondisi fisik stasiun yang teratur dan bersih, lengkap dengan tanda dan rambu peringatan untuk penumpang.
 
Di pintu masuk gerbong seorang petugas menyambut dan memastikan penumpang memasuki pintu yang sesuai dengan nomor tempat duduk di tiket. Di gerbong saya melihat lantainya bersih.   Di atas kursi ada tempat bagasi yang tidak terlalu tinggi untuk diraih seseorang sependek saya. Jadi, saya dengan  mudah menyimpan bawaan saya.
 
Kursinya besar dan nyaman dengan bantal kecil di atas setiap kursi. Ada ruang yang cukup lapang di antara satu kursi dan deretan depannya, ideal untuk orang yang tinggi. Ada meja lipat tersimpan di dalam dudukan tangan. Gerbong dilengkapi AC dan TV di ujung depan. (Sebenarnya tidak perlu ada TV karena toh layarnya tidak begitu besar untuk penumpang di tengah dan belakang.)
 
Kereta berangkat tepat waktu sekitar jam 11.30 WIB. Saya kurang tahu berapa km/jam kecepatan kereta tapi perjalanan terasa nyaman. Kereta hanya beberapa kali berhenti di stasiun yang cukup besar. Selama perjalalan setiap 1 jam ada petugas yang mengumpulkan sampah dan memeriksa kebersihan gerbong. Petugas restoran juga lewat untuk menawarkan minuman dan makanan kepada penumpang. Perjalanan tersebut hanya makan waktu sekitar 5 jam seperti yang tertulis di tiket.
 
Benar-benar kagum saya.
 
Perjalanan pulang ke Salatiga malam hari dengan kereta Argo Anggrek Malam seperti perjalalan ke Jakarta. Satu fasilitas tambahan: selimut.

Tapi saya ingin menyarankan satu hal. Untuk perjalalan malam, ketika kereta berjalan sebaiknya lampu utama dimatikan, seperti di bis malam dan pesawat terbang. Hal ini penting sekali untuk orang yang hanya bisa tidur kalau cukup gelap.

All in all, perjalanan kereta api itu mengesankan. Selain fasilitasnya lengkap dan bersih, termasuk toiletnya, para pegawainya ramah dan sangat membantu.
Semoga kenyamanan dan kebersihan di kelas eksekutif juga dirasakan penumpang di kelas-kelas yang lebih murah.

Terima kasih dan salut PT KAI.
 

Golek Upa

Seorang teman di salah satu grup WA saya selalu menjawab, "Golek upa," kalau ditanya, "Sedang apa?" "Mau ke mana?" atau waktu mau pamit.
 
Kalau dipikir-pikir jawaban singkat dalam bahasa Jawa itu mempunyai makna yang sangat dalam.
'Golek' berarti mencari, dan 'upa' maknanya sebutir nasi. 'Mencari sebutir nasi' sebuah euphemism untuk bekerja.
 
Dalam kegiatan mencari ada dua kemungkinan hasil; mendapatkan/menemukan yang dicari atau tidak mendapatkan/menemukan yang dicari. Sedangkan sebutir nasi memberi gambaran sedikit, tidak banyak.
 
Jadi, golek upa mengandung ajaran bahwa kita tidak selalu akan mendapatkan yang kita cari. Hal ini mengajar kita untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, untuk tidak terlalu kuatir atau sedih kalau kita tidak mendapat rejeki.
 
Golek upa juga bermakna bahwa sebenarnya keperluan dasar kita hanya makanan, itupun sedikit. Dengan begitu kita terhindar dari gluttony, one of the seven deadly sins. Kita juga akan terhindar dari gaya hidup meterialistik. Karena hanya perlu sedikit, kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk hal-hal lain. Kita punya waktu untuk keluarga, teman dan kerabat, serta yang juga penting untuk diri kita sendiri.
 
Kita bisa mengembangkan diri dengan menekuni sebuah hobi, membangun hubungan batin dengan alam dan lingkungan kita, meluangkan waktu untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Bukankah manusia adalah mahluk sosial?
Hidup kita bukan untuk kita sendiri tetapi juga bagi orang lain. Kita seharusnya tidak melulu kerja untuk mencari dan menumpuk uang. Dengan begitu, kita menjauh dari another deadly sin, greed, keserakahan.
 
Ah kereta saya sudah sampai di stasiun tujuan. Pamit dulu ya, mau golek upa.
 
Washington, DC, 20 April 2017
 

Monday, April 17, 2017

WA SD

Kira-kira dua minggu lalu grup WA SD saya terbentuk. Kami lulusan SD Negeri Salatiga IV, yang sekarang sudah tidak ada, tahun 1982. 
 
Belum banyak yang masuk dalam grup. Dari 42 nama yang terdaftar, beberapa di antaranya lulus sesudah 1982, baru 12 yang terangkul. Banyak yang kami tidak tahu rimbanya, sementara beberapa yang sudah ketahuan kontaknya masih enggan ikut dalam grup. It is ok.
 
Saya bisa pastikan bahwa kami super bahagia tersambung lagi. 35 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu saya berkesempatan untuk bersilahturahmi dengan 5 teman lewat Facebook, satu bertemu Januari lalu. Ada 4 yang seSMP, 3 yang seSMA, dan 3 yang sekampus dengan saya. Yang lain tak pernah bertemu atau berkabar.
 
Ketika ruang reuni maya terbentuk, berbagai obrolan gayeng muncul. Sesudah berhai-berhalo serta cerita sedikit tentang keluarga dan pekerjaan, kami mulai bernostalgila. Kenakalan-kenakalan terungkap, kisah-kisah lucu dan guru-guru dikenang lagi, serta tak ketinggalan pembahasan jajanan masa kecil sambil mengingat kebiasaan dan keunggulan masing-masing. 
 
Sungguh pengalaman berharga bisa kembali bersilaturahmi dengan teman-teman SD. Ingatan kami yang hampir setengah abad ini benar-benar diuji. Tak apa kalau lupa, indahnya kalau ingat. 
 
Kami tak sabar menunggu waktu ketika kami bisa kopdar, atau paling tidak  nderek bingah melihat foto-foto dari reuni-reuni kecil.
 
Teman-temanku sayang, terima kasih sudah mewarnai dan memperkaya hidup saya. Mari kita jaga persahabatan ini sampai hayat meninggalkan raga.

In memoriam Fatoni  and Esti Krisna Wardani who went too soon.

Washington, DC, 14 April 2017
 




Tuesday, April 11, 2017

Kekuatan Buku dan Membaca

Balzac and the Little Chinese Seamstress sebuah novel tentang dua remaja yang dikirim ke desa di gunung jauh dari keramaian kota untuk mengikuti program re-education. Program ini dicetuskan Mao selama Revolusi Kebudayaannya. Dalam program itu remaja dikeluarkan dari sekolah dan universitas di mana mereka belajar dan dikirim ke desa-desa di seluruh pelosok China. Di desa-desa tersebut mereka hidup dengan penduduk setempat dan bekerja seperti warga desa.

Betapa Lou dan penulis merindukan buku dan membaca karena Mao melarang semua buku dari barat dan buku yang dianggap bertentangan dengan faham komunis. Kisah mereka di desa menjadi lebih menarik dan menantang ketika mereka meminjam, dan kemudian mencuri buku-buku Four Eyes, remaja yang juga sedang mengikuti program re-education di desa tetangga. Juga, sesudah mereka berkenalan dengan the Little Chinese Seamstress yang sangat terkesan dengan kepandaian Lou bercerita.

Berbagai peristiwa mewarnai kehidupan mereka: tugas bekerja di tambang dan sawah, tugas menonton filem di kota kecil terdekat dan menceritakannya kembali kepada penduduk di desa, kunjungan ke rumah laki-laki tua yang menjalankan mill, kedatangan ibu Four Eyes, kedekatan penulis dengan the Little Chinese Seamstress.

Monday, April 10, 2017

In the Shade

Pagi tadi, kira-kira jam 09.15, di kereta Metro saya dapat tempat duduk di dekat jendela. Ketika kereta mulai berjalan, teriknya sinar matahari musim semi menyengat wajah saya. Secara otomatis saya tarik kepala saya untuk berlindung dari sengatan sang surya.
 
Lalu, terbersit percakapan imaginer di kepala saya.
 
Penumpang lain, sesudah melihat saya menarik kepala saya, "You don't like the sun?"
 
Saya jawab, "I like being in the shade."

Tiba-tiba terpikir, wow kepribadian saya juga seperti itu. Sebagai seorang introvert saya tidak suka menjadi pusat perhatian, tidak nyaman kalau berada di spotlight. Sebisa mungkin saya menghindari situasi-situasi tersebut.
 
Tapi kalau tidak bisa, saya mencoba menikmati panasnya mentari.


Washington, DC, Kamis, 6 April 2017

Wednesday, March 1, 2017

Tidur Dulu Ah...

Tidur - kalau kurang bisa menyebabkan berbagai masalah fisik maupun psikis. 
Di kala banyak orang bekerja, membangun karir, membina keluarga, dan mengerjakan aktivitas lain, tidur cukup menjadi barang langka. Jadi, tak heran kalau mereka berusaha tidur waktu ada kesempatan.

Semester ini untuk ke kampus saya naik bis yang berangkat jam 08.09. Karena ini bis pelaju, para penumpangnya cenderung yang itu-itu saja, walaupun memang kadang-kadang ada wajah baru.

Dari sekian penumpang setia bis 08.09, ada satu pelaju yang selalu tidur. Kalau tidur saja biasa, beberapa pelaju juga tampak tidur, sementara yang lain membaca atau mendengarkan sesuatu lewat smart phone mereka. 

Yang tidak biasa dari pelaju ini, dia tidur dan ngorok hampir sepanjang 40 menit perjalanan bis. Ngorok keras. Dia tidak terbangun meskipun bis berhenti ketika jalanan macet atau pas lampu merah. Dia tidak terbangun ketika sopir tiba-tiba menginjak rem dengan keras. Tidak terbangun ketika ada pengumuman di dalam bis, ataupun ketika lampu di dalam bis menyala (ini biasanya kalau perjalanan pulang pada sore hari). Pokoknya baru terbangun waktu sampai di tempat tujuan ketika semua penumpang turun. Hebat kan.

Bagaimana reaksi penumpang lain? Ya karena setiap hari begitu, mereka jadi bisa, atau harus, menerima keadaan. Seperti pasangan suami istri yang tidur bersama bertahun-tahun, pasti jadi terbiasa mendengar pasangannya ngorok. Malah kadang nggak bisa tidur kalau pas berjauhan dan nggak dengar 'suara merdu' jantung hati yang terlelap tidur. Saya yakin alasan pelaju lainnya pakai headset selain untuk mendengarkan musik juga untuk meredam suara ngorok itu. 

Kadang-kadang beberapa wajah baru yang bereaksi. Ada yang mengungkapkan ketidaksenangannya dengan mendesah kesal sambil menengok ke arah pengorok. Kemarin seorang wajah baru berteriak-teriak mencoba membangunkan pengorok. Tentu tidak berhasil.

Terganggu dengan pelaju yang ngorok ini? Duduklah di belakang dia, di bagian belakang bis. Ngoroknya hampir tidak terdengar dari sana karena tertutup suara mesin bis.

Selamat tidur.

Thursday, February 2, 2017

11 September 2001

11 September 2011 hari pertama saya mengajar di Paul H. Nitze School of Advanced International Studies (SAIS). Saya bangun pagi-pagi penuh semangat dan terus terang sedikit kuatir. Bagaimana tidak. Hari itu hari pertama saya akan mengajar sebagai dosen penuh di sebuah universitas ternama di AS. Untuk mengurangi kekuatiran dan menambah rasa percaya diri, saya pilih baju tanpa lengan kesukaan saya waktu itu, merah tua dengan pola bunga. Di bawahnya saya pakai kaos putih lengan panjang, stoking nude, dan sepatu kulit coklat tanpa tumit. Nyaman untuk udara musim gugur yang belum terlalu dingin dan saya merasa cantik.

Saya siap berangkat. Dengan berdendang di dalam hati saya berjalan dari apartemen saya di Arlington ke stasiun metro Ballston. Untuk memperpendek rute saya lewat mall Ballston. Di sebelah kiri pintu masuk ada sebuah bank. Di dindingnya ada tv besar. Di layar terlihat sebuah laporan kebakaran. Tanpa banyak perhatian saya teruskan langkah saya. Perjalanan di metro lancar. Saya turun di stasiun Dupont Circle setelah ganti kereta di stasiun Metro Center. Dari Dupont Circle saya berjalan kira-kira 10 menit ke gedung Rome di mana kantor dan kelas saya berada. 

Ada apa ya? Saya tak menghiraukan banyak mahasiswa yang berkerumun di depan tv di lobi. Mungkin ada berita menarik. Saya langsung menuju ke lantai tiga untuk bersiap-siap. Keluar dari elevator saya lihat banyak mahasiswa dan dosen bahasa lain yang juga berkerumun di depan tv. Saya mulai ingin tahu. Saya mendekat dan dosen bahasa Arab memberitahu kalau ada serangan teroris di New York. Saya ikut nonton. Sungguh mengerikan. Tidak menyangka kekejian seperti itu dirancang dan dilaksanakan. 

Direktur interim program studi bahasa asing mengumumkan bahwa kelas hari itu dibatalkan. Kami disarankan untuk pulang. Waktu saya akan keluar gedung ada pemberitahuan lain bahwa metro ditutup sementara menyusul serangan ketiga ke Pentagon. Saya kembali ke lantai tiga. Kira-kira sejam kemudian diberitakan bahwa metro sudah beroperasi lagi. 

Kekacauan di jalan. Saya segera keluar, berjalan ke stasiun metro. Jalanan penuh orang. Mereka, seperti saya, mau pulang. Orang tidak saja memenuhi trotoar tapi juga jalan-jalan yang membuat kendaraan susah bergerak. Stasiun metro juga penuh orang. Kami berdiri di sepanjang platform menunggu kereta api. Kami berdesak-desakan di dalam kereta api. Saya tidak dapat tempat duduk. Tidak ada lagi aturan personal space. Saya berdiri tanpa pegangan dan ketika kereta berhenti mendadak saya tidak terjatuh, penumpang di sekitar saya menopang badan saya. Kami betul-betul packed like sardines

Ada dua hal yang menakutkan dalam perjalanan pulang itu. Sistem metro baru bagi saya. Saya baru pindah ke Arlington pertengahan Juli tahun itu dan belum sering naik metro. Saya tidak tahu kalau lampu di gerbong kereta mati selama perjalanan adalah hal yang biasa, juga kereta berhenti di terowongan. Jadi, saya sungguh ketakutan ketika beberapa kali lampu mati dan kereta berhenti di terowongan. (Untung waktu itu saya belum ngeh kalau di antara stasiun metro Foggy Bottom dan Rosslyn kereta lewat terowongan di bawah sungai Potomac.) 

Sungguh lega waktu akhirnya bisa sampai di stasiun metro Ballston dengan selamat. Namun ketakutan masih belum hilang. Saya dengar dan di udara saya bisa lihat dengan jelas beberapa pesawat tempur F16 berputar-putar. Sesampai di apartemen dan menonton berita baru saya tahu bahwa pesawat tempur tersebut berpatroli menyusul dugaan akan adanya serangan ke Gedung Putih. Sore itu, dari seorang teman yang sudah cukup lama tinggal di Arlington, saya juga baru tahu kalau Pentagon ternyata terletak hanya 3 mil dari apartemen saya.

Sungguh hari yang mencekam.


Bad Habit

I have been developing a bad habit these last couple of years. When in a library, book store, thrift store, or garage sale, I tend to buy one or two books; mostly fiction but a handful are non fiction of various genres. They are not expensive, $.25 to $1 at the most, because I do not want to spend a lot of money and I mostly spend my recehan, small change. In addition to that, having a smart phone and being able to find free e-books easily with an already built-in app, I am sadly almost an e-book hoarder. This habit would be okay, or even great, if I read fast and spent a lot a lot of time reading. 

The fact is I do not like reading, but I have this idea that I have to read. Why read? I do not belong to any book club. I do not talk seriously about what I read with other people, except with my husband, Paul. Besides, I usually only remember the big plot of the story. Many of the details are left forgotten. Yes, I do need to learn literary interpretation.

Somehow I believe that reading is a good exercise for one’s mind. Once I read somewhere that an active brain delays the onset of kepikunan, senility.

So, what now? Since I read slowly and sparingly, I end up with books gathering dust in my little condo and e-book files taking space in my smart phone memory. Should I resolute to learn to read faster and spend more time reading? Otherwise, I have to quit buying books. Oh, the dilemma.

Musim Panas 2016

Musim panas 2016 ini ke-13 saya mengajar bahasa Indonesia di program Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI) di University of Wisconsin at Madison. Kali ini pengalaman saya terasa lebih daripada musim-musim panas sebelumnya; lebih aktif, lebih sering bepergian, dan lebih rajin.

Secara fisik saya lebih aktif. Setiap mahasiswa, pegawai, dan dosen UW mendapat subsidi untuk naik bis kota. Selama musim panas, dosen hanya membayar $10 untuk memperoleh bus pass (di Madison ongkos naik bis sekali jalan $2). Murah sekali, kan? Bayangkan! Di DC saya harus mengeluarkan uang sebesar kira-kira $15 sehari untuk ongkos bis dan kereta api bawah tanah. Musim panas ini saya sengaja tidak membeli bus pass. Dengan begitu saya tidak tergoda untuk naik bis kalau udaranya terlalu panas, terlalu lembab, kalau kebetulan hujan atau bawaan saya lebih berat dari biasany. Alhasih, setiap hari kerja, Senin - Jumat, saya harus berjalan kaki ke kampus dan pulang. Jarak dari apartemen saya ke kantor saya di gedung Van Hise sekitar 0,7 mil atau 1,12 km. Selain itu, sering sesudah makan siang kalau udaranya tidak terlalu lembab, saya dan beberapa teman dosen berjalan- jalan di sepanjang tepi Danau Mendota, di dekat gedung Van Hise, selama kurang lebih 30 menit. Rute pulang saya lebih panjang lagi karena biasanya saya menemui suami saya di Memorial Union, Memorial Library, atau warung kopi di pusat kota Madison, lalu kami berjalan pulang. Tambahan lagi, saya berjalan-jalan dengan Pilot, anjing kami, dua kali sehari, pagi dan sore, mengelilingi kompleks apartemen kami dengan total waktu sekali jalan 15 - 20 menit. 

Selama akhir pekan saya juga cukup aktif. Pada hari Sabtu beberapa kali saya pergi ke pasar petani di sekeliling gedung kantor gubernur Wisconsin yang jaraknya kira-kira 1 km dari apartemen saya. Ini rekor tersering karena hal yang biasa selama musim panas saya tidak sekali pun ke pasar petani. Perlu dicatat bahwa pasar petani merupakan event ekonomi dan wisata besar di Madison, WI. Lalu, siang atau sorenya saya dan suami saya berjalan-jalan di mal, berbelanja, makan di luar, dan/atau ke rumah teman yang mengadakan pesta. Hari Minggu saya awali dengan berjalan ke gereja. Biasanya saya ke gereja Katholik St. Paul, paroki kampus UW, di kompleks kampus yang berjarak sekitar 1 km dari apartemen saya. Tapi, summer ini, gereja St. Paul sedang dalam tahap pembangunan (gedung gereja lama dirobohkan awal musim panas atau akhir musim gugur ðŸ˜­) dan misa hari Minggu diselenggarakan di gereja St. James, 5 menit jalan kaki dari apartemen. Sesudah misa, saya berjalan-jalan dengan Pilot. Sore atau malamnya berjalan-jalan lagi dengan Paul. Ya, sering jalan kaki musim panas ini.

Saya juga pergi ke lebih banyak tempat summer ini. Selain beberapa kali kunjungan ke pasar petani yang saya sebutkan di atas, musim panas ini saya untuk pertama kalinya berjalan-jalan di arboretum, Olbrich Gardens, dan Wingra Park. Dengan sejumlah teman saya mempunyai kesempatan untuk melihat bukit bunga matahari, melihat-lihat di pusat perbelanjaan di Middletown, kota tetangga Madison. Rencana ke beberapa tempat dan kota lain belum terpenuhi. Mudah-mudahan musim panas tahun depan.

Musim panas di Madison selalu penuh dengan acara makan-makan. Pertama, makan siang di kampus dengan menu yang dimasak para pengajar bahasa Imdonesia secara bergiliran. Kali ini ditambah dua pengajar bahasa Hmong yang jago memasak juga. Lalu, pesta Idul Fitri dua kali; kesatu dengan mahasiswa program bahasa Indonesia dan kedua dengan sejumlah warga. Makan di luar tidak pernah ketinggalan, baik di restoran maupun di gerobak makanan di depan perpustakaan utama Universitas. Es krim Bobcat tentu saja. Yang belum saya coba adalah fried cheese curd. Lho kok bisa? Ya itu, saya sendiri pun tak tahu.

Walaupun mungkin tidak banyak untuk orang yang super aktif, pada musim panas 2016 ini saya merasa lebih aktif dan dengan begitu lebih menikmati Madison dan sekitarnya, termasuk orang-orangnya. 

Monday, January 30, 2017

Oleh-oleh dari Mudik Kemarin

1. Beberapa asumsi teman dan saudara yang mungkin timbul karena saya sudah tinggal di AS selama 19 tahun dan menikah dengan orang Amerika selama 18 tahun;
- saya warga negara Amerika,
- saya tidak makan nasi lagi,
- saya lupa bahasa Jawa.

2. Di Indonesia saya selalu diminta untuk makan dan mencoba makanan lokal karena makanan itu 'tidak ada' di Amerika.

3. Sepertinya tidak ada zoning untuk daerah usaha dan tempat tinggal.

4. Pelayanan transportasi, selain taksi, yang bagus; cepat, murah, dan dapat dipercaya. Saya puas sekali dengan layanan Grab dan Go-Car waktu saya di Jakarta.
BRT di Semarang juga bagus.
 PT KAI rocks, paling tidak di kelas eksekutif. Ada satu keluhan yang akan saya tulis di postingan terpisah.

5. Saya sempat berkunjung ke beberapa mall di Jakarta. Wow....besar sekali. Banyak juga yang berbelanja di sana.  Ternyata banyak orang kaya di Jakarta.

6. Parkir di mall sudah memakai mesin di mana pengendara mengambil tiket sebelum masuk ke tempat parkir.