Musim panas 2016 ini ke-13 saya mengajar bahasa Indonesia di program Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI) di University of Wisconsin at Madison. Kali ini pengalaman saya terasa lebih daripada musim-musim panas sebelumnya; lebih aktif, lebih sering bepergian, dan lebih rajin.
Secara fisik saya lebih aktif. Setiap mahasiswa, pegawai, dan dosen UW mendapat subsidi untuk naik bis kota. Selama musim panas, dosen hanya membayar $10 untuk memperoleh bus pass (di Madison ongkos naik bis sekali jalan $2). Murah sekali, kan? Bayangkan! Di DC saya harus mengeluarkan uang sebesar kira-kira $15 sehari untuk ongkos bis dan kereta api bawah tanah. Musim panas ini saya sengaja tidak membeli bus pass. Dengan begitu saya tidak tergoda untuk naik bis kalau udaranya terlalu panas, terlalu lembab, kalau kebetulan hujan atau bawaan saya lebih berat dari biasany. Alhasih, setiap hari kerja, Senin - Jumat, saya harus berjalan kaki ke kampus dan pulang. Jarak dari apartemen saya ke kantor saya di gedung Van Hise sekitar 0,7 mil atau 1,12 km. Selain itu, sering sesudah makan siang kalau udaranya tidak terlalu lembab, saya dan beberapa teman dosen berjalan- jalan di sepanjang tepi Danau Mendota, di dekat gedung Van Hise, selama kurang lebih 30 menit. Rute pulang saya lebih panjang lagi karena biasanya saya menemui suami saya di Memorial Union, Memorial Library, atau warung kopi di pusat kota Madison, lalu kami berjalan pulang. Tambahan lagi, saya berjalan-jalan dengan Pilot, anjing kami, dua kali sehari, pagi dan sore, mengelilingi kompleks apartemen kami dengan total waktu sekali jalan 15 - 20 menit.
Selama akhir pekan saya juga cukup aktif. Pada hari Sabtu beberapa kali saya pergi ke pasar petani di sekeliling gedung kantor gubernur Wisconsin yang jaraknya kira-kira 1 km dari apartemen saya. Ini rekor tersering karena hal yang biasa selama musim panas saya tidak sekali pun ke pasar petani. Perlu dicatat bahwa pasar petani merupakan event ekonomi dan wisata besar di Madison, WI. Lalu, siang atau sorenya saya dan suami saya berjalan-jalan di mal, berbelanja, makan di luar, dan/atau ke rumah teman yang mengadakan pesta. Hari Minggu saya awali dengan berjalan ke gereja. Biasanya saya ke gereja Katholik St. Paul, paroki kampus UW, di kompleks kampus yang berjarak sekitar 1 km dari apartemen saya. Tapi, summer ini, gereja St. Paul sedang dalam tahap pembangunan (gedung gereja lama dirobohkan awal musim panas atau akhir musim gugur
) dan misa hari Minggu diselenggarakan di gereja St. James, 5 menit jalan kaki dari apartemen. Sesudah misa, saya berjalan-jalan dengan Pilot. Sore atau malamnya berjalan-jalan lagi dengan Paul. Ya, sering jalan kaki musim panas ini.
Saya juga pergi ke lebih banyak tempat summer ini. Selain beberapa kali kunjungan ke pasar petani yang saya sebutkan di atas, musim panas ini saya untuk pertama kalinya berjalan-jalan di arboretum, Olbrich Gardens, dan Wingra Park. Dengan sejumlah teman saya mempunyai kesempatan untuk melihat bukit bunga matahari, melihat-lihat di pusat perbelanjaan di Middletown, kota tetangga Madison. Rencana ke beberapa tempat dan kota lain belum terpenuhi. Mudah-mudahan musim panas tahun depan.
Musim panas di Madison selalu penuh dengan acara makan-makan. Pertama, makan siang di kampus dengan menu yang dimasak para pengajar bahasa Imdonesia secara bergiliran. Kali ini ditambah dua pengajar bahasa Hmong yang jago memasak juga. Lalu, pesta Idul Fitri dua kali; kesatu dengan mahasiswa program bahasa Indonesia dan kedua dengan sejumlah warga. Makan di luar tidak pernah ketinggalan, baik di restoran maupun di gerobak makanan di depan perpustakaan utama Universitas. Es krim Bobcat tentu saja. Yang belum saya coba adalah fried cheese curd. Lho kok bisa? Ya itu, saya sendiri pun tak tahu.
Walaupun mungkin tidak banyak untuk orang yang super aktif, pada musim panas 2016 ini saya merasa lebih aktif dan dengan begitu lebih menikmati Madison dan sekitarnya, termasuk orang-orangnya.