Saturday, May 27, 2017

Golek Upa

Seorang teman di salah satu grup WA saya selalu menjawab, "Golek upa," kalau ditanya, "Sedang apa?" "Mau ke mana?" atau waktu mau pamit.
 
Kalau dipikir-pikir jawaban singkat dalam bahasa Jawa itu mempunyai makna yang sangat dalam.
'Golek' berarti mencari, dan 'upa' maknanya sebutir nasi. 'Mencari sebutir nasi' sebuah euphemism untuk bekerja.
 
Dalam kegiatan mencari ada dua kemungkinan hasil; mendapatkan/menemukan yang dicari atau tidak mendapatkan/menemukan yang dicari. Sedangkan sebutir nasi memberi gambaran sedikit, tidak banyak.
 
Jadi, golek upa mengandung ajaran bahwa kita tidak selalu akan mendapatkan yang kita cari. Hal ini mengajar kita untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, untuk tidak terlalu kuatir atau sedih kalau kita tidak mendapat rejeki.
 
Golek upa juga bermakna bahwa sebenarnya keperluan dasar kita hanya makanan, itupun sedikit. Dengan begitu kita terhindar dari gluttony, one of the seven deadly sins. Kita juga akan terhindar dari gaya hidup meterialistik. Karena hanya perlu sedikit, kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk hal-hal lain. Kita punya waktu untuk keluarga, teman dan kerabat, serta yang juga penting untuk diri kita sendiri.
 
Kita bisa mengembangkan diri dengan menekuni sebuah hobi, membangun hubungan batin dengan alam dan lingkungan kita, meluangkan waktu untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Bukankah manusia adalah mahluk sosial?
Hidup kita bukan untuk kita sendiri tetapi juga bagi orang lain. Kita seharusnya tidak melulu kerja untuk mencari dan menumpuk uang. Dengan begitu, kita menjauh dari another deadly sin, greed, keserakahan.
 
Ah kereta saya sudah sampai di stasiun tujuan. Pamit dulu ya, mau golek upa.
 
Washington, DC, 20 April 2017
 

No comments: