Tuesday, January 12, 2021

Saya Kangen Nulis dengan Tangan

 Entah kapan saya menyadari bahwa saya seorang motoric learner. Saya bisa belajar, mengingat informasi dengan lebih baik kalau saya menulis informasi itu. Dengan begitu, ingatan saya lebih kuat bahkan saya ingat di sebelah mana di buku catatan saya saya menulis suatu informasi. 

Hal ini saya kira menjelaskan mengapa catatan saya sejak SD selalu rapi. Saya punya satu buku tulis yang saya beri judul 'campursari.' Di buku itu saya mencatat semua pelajaran di kelas. Sepulang sekolah/kuliah, saya menyalin catatan dari buku campursari ke buku-buku khusus untuk setiap mata pelajaran atau mata kuliah. Di buku mata pelajaran/kuliah, saya memakai tinta berbeda untuk topik atau sub-topik. Saya juga menggarisbawahi hal-hal penting seperti nama teori, nama orang, dll. dalam catatan itu. Saya ingat ketika ibu saya membelikan bolpoin Pilot pertama kali. Saya senang sekali karena bisa menulis dengan lebih rapi.

Selain catatan kelas, mungkin sejak SMP, saya menulis buku harian. Isi buku harian itu hal-hal yang tidak penting, hanya apa yang saya lakukan setiap hari. Sering isi buku harian saya sama selama beberapa hari. Yang terpenting, saya menulis dengan tangan. 

Semasa remaja saya mempunyai beberapa sahabat pena. Saya rutin menulis surat kepada mereka walaupun sulit mau menulis tentang apa. Keseharian saya biasa-biasa saja. Kami di rumah tidak terbiasa berdiskusi dengan serius, membicarakan pendapat-pendapat kami. 

Waktu tinggal jauh dari orangtua saya, paling tidak dua minggu sekali saya menulis surat kepada mereka. Saya sertakan foto-foto kegiatan saya dengan keterangannya di balik foto. Waktu itu, biaya telepon internasional cukup mahal untuk mahasiswa. Saya menikmati aktivitas itu. Saya menulis dengan hati-hati dan rapi. Saya ingin tulisan saya bisa dibaca dengan mudah. 

Beberapa tahun belakangan ini saya sudah jarang sekali menulis dengan tangan. Catatan selama rapat kerja, seminar, workshop, atau konferensi langsung saya tulis di laptop. Daftar belanja dan ide-ide untuk bahan mengajar atau blog saya tulis di aplikasi Notes di smartphone saya. Komunikasi dengan teman-teman dan kerabat lain kami lakukan dengan e-mail, FB, dan WA. Saya tidak punya buku harian lagi, tapi saya menulis di blog. Saya menelpon orangtua saya dengan Skype, Rebtel, atau WA. Foto-foto saya kirim lewat e-mail dan WA.

Bisa dikatakan saya hampir tidak pernah menulis dengan tangan lagi. Untuk mencegah 'hampir tidak pernah' menjadi 'tidak pernah,' dengan sengaja saya masil punya planner. Oh, saya juga masih membayar beberapa tagihan dengan cek.

With the current technology one needs neither pen nor paper to write. Besides, it really saves a lot of paper. I don't even have any printer anymore. Saya kangen menulis dengan tangan.

No comments: