Dahulu kala adalah seorang kawula dalem keraton Solo yang tugasnya mengumpulkan upeti dari daerah-daerah kekuasaan keraton. Nama beliau Den Rangga.
Den Rangga mempunyai seorang istri yang tinggal di Penularan, Solo. Mereka mempunyai 2 orang anak; Surati dan Sutadi. Ketika dewasa, Sutadi menikah dengan Suwiji. Mereka simbah kakung dan simbah putri penulis. Mereka mempunyai 3 anak; Sutarti, Sutarni, dan Sanyata.
Dalam sebuah perjalanan tugas ke desa Biru, Den Rangga jatuh cinta kepada seorang gadis di sana. Sesudah menikah, mereka dikaruniai 3 anak; Suta, Krama, dan Pringgo. Sampai sekarang beberapa anak cucu mereka masih tinggal di Biru.
Beberapa saat setelah bu Rangga Solo meninggal, Den Rangga menikahi adik perempuan almarhumah. Mereka mempunyai 1 anak; Citro Radyaka.
Den Rangga mempunyai seorang istri lain yang juga tinggal di Solo. Mereka mempunyai 4 anak; Sujito, Sutarman, Sutani, Suwardi.
Di samping pekerjaan tetapnya, Sutarman bekerja di keraton. Dia ikut tungguk [= piket] di keraton dari jam 20.00 sampai pagi sebulan sekali dengan honor Rp.15.000/ bulan. Menurutnya, yang penting dalam pekerjaannya itu bukan uangnya melainkan mendapat pangestu dari raja.
Keluarga Sutadi muda tinggal di Gebalen, Solo, bertetangga dengan anak-anak Den Rangga dari istri keempat. Sanyata sering dipanggil 'Gus Nyata' dan Sutarni 'Mbok Ra' (Mbok Rara Sutarni).
Selama belajar di SGB Sragen, Sutarni tinggal dengan keluarga Citro Radyaka.
NB: Informasi baru akan ditambahkan.