Thursday, May 14, 2015

Rest In Peace, Om Sanyata


5 Feb. 1944 - 10 Mei 2015

Om Sanyata yang aku kenal adalah seorang pribadi yang sabar, pandai dengan wawasan luas dan pikiran terbuka. Om berbakat dalam musik dan mempunyai cita rasa keindahan yang tinggi. Om juga mempunyai rasa keadilan yang kuat. Om berani, berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan di perusahaan di mana om bekerja. Om orangnya practical. Mungkin itu yang membuat om menjalani kehidupan dan menghadapi setiap masalah dengan tenang.

Sejak kecil aku selalu merasa senang ketika mau bertemu om.

Waktu om, bulik, dan Anto masih tinggal di Salatiga, om dan/atau bulik sepulang kerja sore-sore menjemput Anto di rumah Pungkursari. Aku, seperti Anto, juga selalu menunggu kedatangan mereka, walau sebentar kemudian mereka harus pulang ke rumah Gendongan.

Kadang-kadang ibu, bapak, mbak Nona, mbak Atik, mbak Atri, aku, dan Joko berkunjung ke Gendongan. Aku masih kecil, jadi tidak ingat persis apa saja yang kami lakukan di sana, tapi yang pasti aku selalu menunggu-nunggu kesempatan pergi  ke Gendongan, kesempatan bertemu om.

Ada cerita dari ibuku, aku sendiri lupa kejadian ini. Waktu itu umurku 3 atau 4 tahun. Suatu sore seorang tetangga berlari menghampiri ibuku di rumah. Dengan cemas dia bilang kalau melihat aku di jalan cukup jauh dari rumah; di dekat toko Pojok. Ibuku langsung pergi mencari aku. Lalu, ibu tanya aku mau ke mana. Jawabku, mau cari dokar. Kenapa cari dokar, tanya ibu lagi. Aku jawab, untuk pergi ke rumah om. Memang kami selalu naik dokar ke Gendongan. Apa yang membuat aku nekad mencari dokar? Sore itu aku tidak mau mandi. Supaya aku mau mandi, ibu bilang kalau sesudah mandi kami akan ke rumah om.

Awal tahun 2013 aku terakhir bertemu dan omong-omong dengan om. Walaupun kelihatan sedikit kurus, om kelihatan sehat. Om cerita tentang kesehariannya; dimulai dari bangun pagi untuk sembahyang subuh di masjid – kadang-kadang om bersilaturahmi dengan teman dan imam masjid untuk berdiskusi tentang Islam dan topik-topik lain -, bermain dengan cucu di kala liburan, bermain Sudoku, sampai malam tiduran sambil nonton tv.  Om bahagia ketiga putra-putrinya sudah mentas. Om bahagia mereka dan keluarga mereka sehat. Aku bisa melihat kebanggaan dan kebahagiaan om sebagai seorang bapak dan kakek.

Selamat jalan, om Sanyata. Beristirahatlah dalam kedamaian abadi di surga mulia. Salam untuk bapak, simbah, budhe & pakdhe Huri, dan mbak Nuk. ‘Till we meet again.
 
Manassas, VA, 11 Mei 2015