5 Feb. 1944 - 10 Mei 2015
Om Sanyata yang aku kenal adalah seorang pribadi yang
sabar, pandai dengan wawasan luas dan pikiran terbuka. Om berbakat dalam musik
dan mempunyai cita rasa keindahan yang tinggi. Om juga mempunyai rasa keadilan
yang kuat. Om berani, berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan di
perusahaan di mana om bekerja. Om orangnya practical.
Mungkin itu yang membuat om menjalani kehidupan dan menghadapi setiap masalah
dengan tenang.
Sejak kecil aku selalu merasa senang ketika mau
bertemu om.
Waktu om, bulik, dan Anto masih tinggal di Salatiga,
om dan/atau bulik sepulang kerja sore-sore menjemput Anto di rumah Pungkursari.
Aku, seperti Anto, juga selalu menunggu kedatangan mereka, walau sebentar
kemudian mereka harus pulang ke rumah Gendongan.
Kadang-kadang ibu, bapak, mbak Nona, mbak Atik, mbak Atri,
aku, dan Joko berkunjung ke Gendongan. Aku masih kecil, jadi tidak ingat persis
apa saja yang kami lakukan di sana, tapi yang pasti aku selalu menunggu-nunggu
kesempatan pergi ke Gendongan,
kesempatan bertemu om.
Ada cerita dari ibuku, aku sendiri lupa kejadian ini. Waktu
itu umurku 3 atau 4 tahun. Suatu sore seorang tetangga berlari menghampiri
ibuku di rumah. Dengan cemas dia bilang kalau melihat aku di jalan cukup jauh
dari rumah; di dekat toko Pojok. Ibuku langsung pergi mencari aku. Lalu, ibu
tanya aku mau ke mana. Jawabku, mau cari dokar. Kenapa cari dokar, tanya ibu
lagi. Aku jawab, untuk pergi ke rumah om. Memang kami selalu naik dokar ke Gendongan.
Apa yang membuat aku nekad mencari dokar? Sore itu aku tidak mau mandi. Supaya
aku mau mandi, ibu bilang kalau sesudah mandi kami akan ke rumah om.
Awal tahun 2013 aku terakhir bertemu dan omong-omong
dengan om. Walaupun kelihatan sedikit kurus, om kelihatan sehat. Om cerita
tentang kesehariannya; dimulai dari bangun pagi untuk sembahyang subuh di
masjid – kadang-kadang om bersilaturahmi dengan teman dan imam masjid untuk
berdiskusi tentang Islam dan topik-topik lain -, bermain dengan cucu di kala
liburan, bermain Sudoku, sampai malam tiduran sambil nonton tv. Om bahagia ketiga putra-putrinya sudah mentas. Om bahagia mereka dan keluarga
mereka sehat. Aku bisa melihat kebanggaan dan kebahagiaan om sebagai seorang
bapak dan kakek.
Selamat jalan, om Sanyata. Beristirahatlah dalam kedamaian
abadi di surga mulia. Salam untuk bapak, simbah, budhe & pakdhe Huri, dan mbak Nuk. ‘Till
we meet again.
Manassas, VA, 11 Mei 2015
