Aku tidak tahu apakah ketakukan seperti ini wajar dialami oleh setiap orang. Apakah ini sebuah gejala kelainan jiwa? Atau barangkali, ini yang aku harap merupakan jawabannya, ketakutan itu muncul karena aku tinggal jauh dari kota kelahiranku, dari keluargaku, dan jarang mudik untuk mengobati rinduku kepada mereka.
Untuk mengurangi, dan kalau mungkin menghapus, ketakutan itu aku akan mulai menulis cerita tentang peristiwa-peristiwa masa kecil dan mudaku di blog ini. Semoga.
Berikut satu cerita dari masa lalu.
Foto ini diambil di rumah kontrakan di Jl. Pemotongan 88, Salatiga pada tahun 1979, di depan rumah kami. Kemungkinan besar bapak yang memfoto karena beliau tidak ada di foto. Waktu itu bu Ririn, om Sanyata, dan Antok tinggal di Gendongan dan kadang-kadang berkunjung ke Pungkursari. Mbak Sri, putri sulung pakde Mashuri & budhe Sutarti Semarang, dan mas Sutikto, putra ketiga pakde dan bude Sutoyo, Karangmalang, tinggal dengan kami. Mas Tikto tinggal di salah satu kamar kos di belakang rumah utama mbah Subadi (di belakang kami di foto). Mbak Sri bekerja di Semarang, jadi setiap hari laju. Mas Tikto kursus montir mobil di Jl. Osamaliki, di Kalinangka.Air sumur di foto hanya dipakai untuk menyirami tanaman karena airnya kotor. Kami sudah punya ledeng. Tumpukan batu bata di foto milik mbak Badi. Aku tidak tahu beliau mau membangun atau merenovasi apa. Seingatku tumpukan itu sudah ada sejak aku bisa mengingat dan masih di sana waktu kami pindah ke Jangkungan tahun 1979.
No comments:
Post a Comment