
(Foto dari: http://http//www.kicaumania.org/forums/showthread.php?5759-Burung-Manyar-(ploceus-Manyar)
Penulis: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Djambatan, Jakarta 1981
WARNING: Do not read this review if you have not read the novel and plan to do so, unless you don't mind knowing the ending beforehand.
Para pelaku:
Setadewa aka Teto, putra tunggal Kapten Brajabasuki, tentara KNIL, dan Marice, perempuan indo, doktor matematika.
Larasati aka Atik, putri tunggal bapak dan ibu Antana, doktor biologi.
Janakatamsi aka Jon, suami Atik, ahli geologi.
Penerbit: Djambatan, Jakarta 1981
WARNING: Do not read this review if you have not read the novel and plan to do so, unless you don't mind knowing the ending beforehand.
Para pelaku:
Setadewa aka Teto, putra tunggal Kapten Brajabasuki, tentara KNIL, dan Marice, perempuan indo, doktor matematika.
Larasati aka Atik, putri tunggal bapak dan ibu Antana, doktor biologi.
Janakatamsi aka Jon, suami Atik, ahli geologi.
Ploceus Manyar
Kisah cinta dua anak manusia dengan latar belakang keluarga bangsawan Surakarta, yang berhasil gemilang dalam hidup namun mendamba cinta sejati.
Tragedi cinta karena kesombongan dan situasi politik Indonesia pra-Jepang, selama pendudukan Jepang, perang revolusi, sampai saat kemerdekaan RI.
Pada akhir buku Mangunwijawa 'membunuh' Larasati dan Janakatamsi dalam perjalanan mereka naik haji. Mungkin penulis berpikir hal ini harus terjadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan; menghindari tumbuhnya cinta terlarang antara Atik dan Teto. Sekaligus dia ingin meneguhkan hubungan suami istri Atik dan Jon.
Sementara Teto diberi kesempatan untuk 'menebus' dosa-dosa masa lalunya dengan mengadopsi dan mengasuh ketiga anak Atik dan Jon. Dan untuk menunjukkan betapa suci cintanya kepada Atik, dia berkeputusan, paling tidak sampai waktu cerita selesai, untuk tidak menikah lagi.
Dengan demikian Teto diberi waktu, seperti burung manyar jantan, untuk membangun 'sarang' baru guna menata hatinya dan menarik betina lain.
Kisah cinta dua anak manusia dengan latar belakang keluarga bangsawan Surakarta, yang berhasil gemilang dalam hidup namun mendamba cinta sejati.
Tragedi cinta karena kesombongan dan situasi politik Indonesia pra-Jepang, selama pendudukan Jepang, perang revolusi, sampai saat kemerdekaan RI.
Pada akhir buku Mangunwijawa 'membunuh' Larasati dan Janakatamsi dalam perjalanan mereka naik haji. Mungkin penulis berpikir hal ini harus terjadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan; menghindari tumbuhnya cinta terlarang antara Atik dan Teto. Sekaligus dia ingin meneguhkan hubungan suami istri Atik dan Jon.
Sementara Teto diberi kesempatan untuk 'menebus' dosa-dosa masa lalunya dengan mengadopsi dan mengasuh ketiga anak Atik dan Jon. Dan untuk menunjukkan betapa suci cintanya kepada Atik, dia berkeputusan, paling tidak sampai waktu cerita selesai, untuk tidak menikah lagi.
Dengan demikian Teto diberi waktu, seperti burung manyar jantan, untuk membangun 'sarang' baru guna menata hatinya dan menarik betina lain.
No comments:
Post a Comment