Tuesday, January 18, 2011

Tentang Berumah Tangga

Dalam sebuah forum chatting, seorang teman mengunggah satu artikel tentang dampak positif berumah tangga berdasarkan penelitian biologis and psikologis. Kepada seorang teman yang masih single, dia menulis nanti kalau dia menemukan artikel tentang dampak negatif berumah tangga, akan dia unggah.

Posting teman itu membuat penulis berpikir tentang kata rumah tangga. Penulis mencari-cari arti frasa itu di beberapa kamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan rumah tangga sebagai yang berkenaan dengan urusan kehidupan di rumah (seperti halnya belanja rumah). Definisi kedua berbunyi berkenaan dengan keluarga.

Lalu, bagaimana asal usul kombinasi kata rumah dan kata tangga? Dalam bahasa Inggris, padanan rumah tangga adalah household (house + hold = memegang). Dalam bahasa Belanda, padanannya huisgezin (huis + gezin = keluarga) atau huishouden (huis + houden = memegang). Kalau bukan dari kedua bahasa itu, barangkali frasa rumah tangga berasal dari bahasa Melayu. Mungkin, ini perkiraan penulis saja, dulu di Riau, daerah asal bahasa Melayu, penduduk tinggal di rumah panggung. Untuk masuk dan keluar rumah diperlukan sebuah tangga. Waktu dua orang memulai hidup berkeluarga, mereka tinggal dalam sebuah rumah, rumah yang bertangga. Jadilah, frasa rumah tangga.

Namun ada makna yang lebih mendalam, yang menurut penulis merupakan tantangan dalam berumah tangga, bukan merupakan dampak negatif. Pertama, tangga dibuat untuk dinaiki dan dituruni. Kalau tangga dibuat dari bahan yang kuat dan dengan desain (baca: rencana) yang baik, tangga itu akan tahan lama dan solid. Dengan demikian, orang akan naik dan turun tangga dengan perasaan aman. Kedua, tingkat kemiringan tangga juga berpengaruh. Ada tangga yang landai dan ada pula yang terjal. Tentu saja tangga landai lebih mudah dan cepat dilalui daripada yang terjal.

Walaupun sebuah keluarga bertangga solid dan landai, tidak berarti keluarga itu terlepas dari tantangan. Ada kemungkinan orang yang tinggal di rumah itu mempunyai phobia terhadap ketinggian. Tapi, jangan lupa bahwa phobia bisa diatasi, kalau tidak tersembuhkan. Sementara itu, tangga yang tidak kuat dan terjal bisa diperbaiki.

Selamat berumah tangga!

Thursday, January 13, 2011

Tentang Hukuman Mati

Saya tidak setuju dengan hukuman mati karena beberapa alasan berikut:

1. saya percaya semua manusia diciptakan serupa dengan Allah, dianugerahi kehidupan oleh Allah. Jadi, hanya Dialah yang mempunyai hak untuk mengambilnya kembali. Tidak ada seorangpun atau badan apapun, termasuk pemerintah manapun, yang berhak mengambil hidup seseorang apapun alasannya.

2. saya cenderung kurang percaya pada lembaga yudikatif, termasuk di dalamnya kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman. Pihak kepolisian acap kali tidak menyelidiki kasus dengan teliti. Pada kasus-kasus high-profile mereka mendapat tekanan dari berbagai pihak untuk segera menangkap dan menyerahkan tertuduh kepada pihak kejaksaan untuk diadili. Hal ini sangat memungkinkan kerja yang asal-asalan, mencari kambing hitam, dan kongkalikong dengan jaksa dan hakim. Sering kali kerja lembaga yudikatif sangat dipengaruhi oleh situasi dan kepentingan politik seseorang atau sekelompok orang.

3. hukuman mati tidak membuat 'penjahat' lain takut atau jera. Saya percaya seseorang yang melakukan kejahatan yang 'layak' mendapat hukuman mati pasti mempunyai latar belakang, alasan, atau masalah tertentu. Sering akar masalah-masalah tersebut adalah kemiskinan. Kemiskinan terjadi karena kurang bertanggungjawabnya masyarakat dan pemerintah. Mereka baik secara langsung maupun tidak langsung, sadar atau tidak sadar, membiarkan sebagian anggota masyarakat jatuh dalam kemiskinan. Jadi, tidaklah adil menghukum mati seseorang karena kejahatannya kalau masyarakat dan pemerintah, kalau kita, ikut andil dalam membentuk sosok penjahat tersebut.

"Capital punishment is the most premeditated of all premeditated murders." -- A. Camus