Saturday, May 27, 2017

Dari Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua 19 April 2017

Ok, kita lihat cv di bidang pemerintahan kedua paslon. (Sengaja saya tidak lakukan riset. Ini dari ingatan saya saja.)
 
Paslon No. 2:
- Bupati Bangka-Belitung
- Anggota DPR
- Wakil gubernur Jakarta
- Gubernur Jakarta dengan tingkat kepuasan kerja 70an%

Paslon No. 3:
- Menteri Pendidikan Nasional, diberhentikan (banyak yang bilang dipecat) hanya sesudah setahun   lebih sedikit menjabat.

TAPI, siapa pemenangnya?

TERNYATA, Jakarta masih bodoh.

Washington, DC, 1 Mei 2017

PT KAI-ku Malang, PT KAI-ku Sayang

Saya naik kereta api pertama kali pada tahun 2005. Waktu itu keluarga kakak saya yang tinggal di Toraja sedang di Jawa. Kami bertemu di Jakarta dan sempat berekreasi di ibukota. Waktu mau pulang ke Salatiga dua keponakan pra-remaja saya minta naik kereta api karena mereka belum pernah naik kereta api. Sebenarnya saya juga belum pernah. Jadi, kami setuju.
 
Perjalanan malam sekitar 10 jam dari stasiun Jatinegara ke Tawang Semarang di kelas utama itu membuat saya berjanji kepada diri sendiri untuk tidak akan pernah lagi naik kereta api. (Beruntung saya bukan tipe orang yang mudah trauma, kalau memang ada jenis itu.)
Mengapa? 
Gerbongnya penuh sesak. Banyak penumpang yang tidak mendapat tempat duduk. Mungkin mereka tidak membeli tiket resmi. Alhasih, mereka duduk dan/atau tidur di lantai. Tidak ada sejengkal lantaipun yang kosong. 
 
Selain sesak, udara di gerbong sangat panas dan lembab. Tidak ada AC. Minum air seharusnya bisa mengurangi kegerahan, tetapi saya terpaksa membatasi jumlah air yang saya minum. Kok? Saya tidak berani ke toilet. Bau kamar kecil yang tercium dari kursi saya (saya duduk di deretan tengah) memudarkan keinginan untuk ke sana. Saya beruntung lagi. Kandung kemih saya bisa diandalkan.
 
Kesesakan dan kepanasan tidak cukup menyiksa saya. Kursi di kelas utama tidak nyaman. Keras, tidak ada armrest-nya dan tidak bisa recline. Dan, lampu gerbong menyala terang benderang sepanjang perjalanan.
 
Kursi yang tidak nyaman, bau toilet yang menyengat, lampu, dan udara panas lembab membuat saya merasa tidak diperlakukan secara layak, secara manusiawi.
 
Pengalaman buruk ini serupa dengan perjalanan saya dari Surabaya ke Ujung Pandang tahun 1997 dengan Pelni (Lihat "PELNIku Sayang PELNIku Malang.")
 
TETAPI, waktu pak Ignatius Jonan menjabat sebagai dirjen perhubungan darat, saya membaca dan mendengar berbagai kemajuan dalam sektor perhubungan, terutama kereta api. Jadi waktu saya mudik Desember - Januari lalu dan mendapat kesempatan untuk ke Jakarta saya memutuskan untuk naik kereta api. Saya ingin membuktikan dengan mata kepala dan badan saya sendiri keberhasilan PT KAI. 
 
Tanggal 6 Januari saya naik kereta api Argo Anggrek Pagi dari stasiun Tawang, Semarang. Pertama-tama, begitu memasuki stasiun Tawang saya terkejut dan kagum melihat kondisi fisik stasiun yang teratur dan bersih, lengkap dengan tanda dan rambu peringatan untuk penumpang.
 
Di pintu masuk gerbong seorang petugas menyambut dan memastikan penumpang memasuki pintu yang sesuai dengan nomor tempat duduk di tiket. Di gerbong saya melihat lantainya bersih.   Di atas kursi ada tempat bagasi yang tidak terlalu tinggi untuk diraih seseorang sependek saya. Jadi, saya dengan  mudah menyimpan bawaan saya.
 
Kursinya besar dan nyaman dengan bantal kecil di atas setiap kursi. Ada ruang yang cukup lapang di antara satu kursi dan deretan depannya, ideal untuk orang yang tinggi. Ada meja lipat tersimpan di dalam dudukan tangan. Gerbong dilengkapi AC dan TV di ujung depan. (Sebenarnya tidak perlu ada TV karena toh layarnya tidak begitu besar untuk penumpang di tengah dan belakang.)
 
Kereta berangkat tepat waktu sekitar jam 11.30 WIB. Saya kurang tahu berapa km/jam kecepatan kereta tapi perjalanan terasa nyaman. Kereta hanya beberapa kali berhenti di stasiun yang cukup besar. Selama perjalalan setiap 1 jam ada petugas yang mengumpulkan sampah dan memeriksa kebersihan gerbong. Petugas restoran juga lewat untuk menawarkan minuman dan makanan kepada penumpang. Perjalanan tersebut hanya makan waktu sekitar 5 jam seperti yang tertulis di tiket.
 
Benar-benar kagum saya.
 
Perjalanan pulang ke Salatiga malam hari dengan kereta Argo Anggrek Malam seperti perjalalan ke Jakarta. Satu fasilitas tambahan: selimut.

Tapi saya ingin menyarankan satu hal. Untuk perjalalan malam, ketika kereta berjalan sebaiknya lampu utama dimatikan, seperti di bis malam dan pesawat terbang. Hal ini penting sekali untuk orang yang hanya bisa tidur kalau cukup gelap.

All in all, perjalanan kereta api itu mengesankan. Selain fasilitasnya lengkap dan bersih, termasuk toiletnya, para pegawainya ramah dan sangat membantu.
Semoga kenyamanan dan kebersihan di kelas eksekutif juga dirasakan penumpang di kelas-kelas yang lebih murah.

Terima kasih dan salut PT KAI.
 

Golek Upa

Seorang teman di salah satu grup WA saya selalu menjawab, "Golek upa," kalau ditanya, "Sedang apa?" "Mau ke mana?" atau waktu mau pamit.
 
Kalau dipikir-pikir jawaban singkat dalam bahasa Jawa itu mempunyai makna yang sangat dalam.
'Golek' berarti mencari, dan 'upa' maknanya sebutir nasi. 'Mencari sebutir nasi' sebuah euphemism untuk bekerja.
 
Dalam kegiatan mencari ada dua kemungkinan hasil; mendapatkan/menemukan yang dicari atau tidak mendapatkan/menemukan yang dicari. Sedangkan sebutir nasi memberi gambaran sedikit, tidak banyak.
 
Jadi, golek upa mengandung ajaran bahwa kita tidak selalu akan mendapatkan yang kita cari. Hal ini mengajar kita untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, untuk tidak terlalu kuatir atau sedih kalau kita tidak mendapat rejeki.
 
Golek upa juga bermakna bahwa sebenarnya keperluan dasar kita hanya makanan, itupun sedikit. Dengan begitu kita terhindar dari gluttony, one of the seven deadly sins. Kita juga akan terhindar dari gaya hidup meterialistik. Karena hanya perlu sedikit, kita tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sehingga kita punya lebih banyak waktu untuk hal-hal lain. Kita punya waktu untuk keluarga, teman dan kerabat, serta yang juga penting untuk diri kita sendiri.
 
Kita bisa mengembangkan diri dengan menekuni sebuah hobi, membangun hubungan batin dengan alam dan lingkungan kita, meluangkan waktu untuk membantu mereka yang kurang beruntung. Bukankah manusia adalah mahluk sosial?
Hidup kita bukan untuk kita sendiri tetapi juga bagi orang lain. Kita seharusnya tidak melulu kerja untuk mencari dan menumpuk uang. Dengan begitu, kita menjauh dari another deadly sin, greed, keserakahan.
 
Ah kereta saya sudah sampai di stasiun tujuan. Pamit dulu ya, mau golek upa.
 
Washington, DC, 20 April 2017