Monday, April 17, 2017

WA SD

Kira-kira dua minggu lalu grup WA SD saya terbentuk. Kami lulusan SD Negeri Salatiga IV, yang sekarang sudah tidak ada, tahun 1982. 
 
Belum banyak yang masuk dalam grup. Dari 42 nama yang terdaftar, beberapa di antaranya lulus sesudah 1982, baru 12 yang terangkul. Banyak yang kami tidak tahu rimbanya, sementara beberapa yang sudah ketahuan kontaknya masih enggan ikut dalam grup. It is ok.
 
Saya bisa pastikan bahwa kami super bahagia tersambung lagi. 35 tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu saya berkesempatan untuk bersilahturahmi dengan 5 teman lewat Facebook, satu bertemu Januari lalu. Ada 4 yang seSMP, 3 yang seSMA, dan 3 yang sekampus dengan saya. Yang lain tak pernah bertemu atau berkabar.
 
Ketika ruang reuni maya terbentuk, berbagai obrolan gayeng muncul. Sesudah berhai-berhalo serta cerita sedikit tentang keluarga dan pekerjaan, kami mulai bernostalgila. Kenakalan-kenakalan terungkap, kisah-kisah lucu dan guru-guru dikenang lagi, serta tak ketinggalan pembahasan jajanan masa kecil sambil mengingat kebiasaan dan keunggulan masing-masing. 
 
Sungguh pengalaman berharga bisa kembali bersilaturahmi dengan teman-teman SD. Ingatan kami yang hampir setengah abad ini benar-benar diuji. Tak apa kalau lupa, indahnya kalau ingat. 
 
Kami tak sabar menunggu waktu ketika kami bisa kopdar, atau paling tidak  nderek bingah melihat foto-foto dari reuni-reuni kecil.
 
Teman-temanku sayang, terima kasih sudah mewarnai dan memperkaya hidup saya. Mari kita jaga persahabatan ini sampai hayat meninggalkan raga.

In memoriam Fatoni  and Esti Krisna Wardani who went too soon.

Washington, DC, 14 April 2017
 




Tuesday, April 11, 2017

Kekuatan Buku dan Membaca

Balzac and the Little Chinese Seamstress sebuah novel tentang dua remaja yang dikirim ke desa di gunung jauh dari keramaian kota untuk mengikuti program re-education. Program ini dicetuskan Mao selama Revolusi Kebudayaannya. Dalam program itu remaja dikeluarkan dari sekolah dan universitas di mana mereka belajar dan dikirim ke desa-desa di seluruh pelosok China. Di desa-desa tersebut mereka hidup dengan penduduk setempat dan bekerja seperti warga desa.

Betapa Lou dan penulis merindukan buku dan membaca karena Mao melarang semua buku dari barat dan buku yang dianggap bertentangan dengan faham komunis. Kisah mereka di desa menjadi lebih menarik dan menantang ketika mereka meminjam, dan kemudian mencuri buku-buku Four Eyes, remaja yang juga sedang mengikuti program re-education di desa tetangga. Juga, sesudah mereka berkenalan dengan the Little Chinese Seamstress yang sangat terkesan dengan kepandaian Lou bercerita.

Berbagai peristiwa mewarnai kehidupan mereka: tugas bekerja di tambang dan sawah, tugas menonton filem di kota kecil terdekat dan menceritakannya kembali kepada penduduk di desa, kunjungan ke rumah laki-laki tua yang menjalankan mill, kedatangan ibu Four Eyes, kedekatan penulis dengan the Little Chinese Seamstress.

Monday, April 10, 2017

In the Shade

Pagi tadi, kira-kira jam 09.15, di kereta Metro saya dapat tempat duduk di dekat jendela. Ketika kereta mulai berjalan, teriknya sinar matahari musim semi menyengat wajah saya. Secara otomatis saya tarik kepala saya untuk berlindung dari sengatan sang surya.
 
Lalu, terbersit percakapan imaginer di kepala saya.
 
Penumpang lain, sesudah melihat saya menarik kepala saya, "You don't like the sun?"
 
Saya jawab, "I like being in the shade."

Tiba-tiba terpikir, wow kepribadian saya juga seperti itu. Sebagai seorang introvert saya tidak suka menjadi pusat perhatian, tidak nyaman kalau berada di spotlight. Sebisa mungkin saya menghindari situasi-situasi tersebut.
 
Tapi kalau tidak bisa, saya mencoba menikmati panasnya mentari.


Washington, DC, Kamis, 6 April 2017