11 September 2011 hari pertama saya mengajar di Paul H. Nitze
School of Advanced International Studies (SAIS). Saya bangun pagi-pagi penuh
semangat dan terus terang sedikit kuatir. Bagaimana tidak. Hari itu hari
pertama saya akan mengajar sebagai dosen penuh di sebuah universitas ternama di
AS. Untuk mengurangi kekuatiran dan menambah rasa percaya diri, saya pilih
baju tanpa lengan kesukaan saya waktu itu, merah tua dengan pola bunga. Di bawahnya saya
pakai kaos putih lengan panjang, stoking nude, dan sepatu kulit coklat tanpa
tumit. Nyaman untuk udara musim gugur yang belum terlalu dingin dan saya merasa
cantik.
Saya siap berangkat. Dengan berdendang di
dalam hati saya berjalan dari apartemen saya di Arlington ke stasiun metro
Ballston. Untuk memperpendek rute saya lewat mall Ballston. Di sebelah kiri
pintu masuk ada sebuah bank. Di dindingnya ada tv besar. Di layar terlihat
sebuah laporan kebakaran. Tanpa banyak perhatian saya teruskan langkah saya.
Perjalanan di metro lancar. Saya turun di stasiun Dupont Circle setelah ganti
kereta di stasiun Metro Center. Dari Dupont Circle saya berjalan kira-kira 10
menit ke gedung Rome di mana kantor dan kelas saya berada.
Ada apa ya? Saya tak menghiraukan
banyak mahasiswa yang berkerumun di depan tv di lobi. Mungkin ada berita
menarik. Saya langsung menuju ke lantai tiga untuk bersiap-siap. Keluar dari
elevator saya lihat banyak mahasiswa dan dosen bahasa lain yang juga berkerumun
di depan tv. Saya mulai ingin tahu. Saya mendekat dan dosen bahasa Arab
memberitahu kalau ada serangan teroris di New York. Saya ikut nonton. Sungguh
mengerikan. Tidak menyangka kekejian seperti itu dirancang dan dilaksanakan.
Direktur interim program studi bahasa asing mengumumkan bahwa kelas hari itu
dibatalkan. Kami disarankan untuk pulang. Waktu saya akan keluar gedung ada
pemberitahuan lain bahwa metro ditutup sementara menyusul serangan ketiga ke
Pentagon. Saya kembali ke lantai tiga. Kira-kira sejam kemudian diberitakan
bahwa metro sudah beroperasi lagi.
Kekacauan di jalan. Saya segera keluar, berjalan ke stasiun
metro. Jalanan penuh orang. Mereka, seperti saya, mau pulang. Orang tidak saja
memenuhi trotoar tapi juga jalan-jalan yang membuat kendaraan susah bergerak.
Stasiun metro juga penuh orang. Kami berdiri di sepanjang platform menunggu
kereta api. Kami berdesak-desakan di dalam kereta api. Saya tidak dapat tempat
duduk. Tidak ada lagi aturan personal space. Saya berdiri tanpa pegangan dan
ketika kereta berhenti mendadak saya tidak terjatuh, penumpang di sekitar saya menopang badan saya. Kami betul-betul packed like sardines.
Ada dua hal yang menakutkan
dalam perjalanan pulang itu. Sistem metro baru bagi saya. Saya baru pindah ke
Arlington pertengahan Juli tahun itu dan belum sering naik metro. Saya tidak
tahu kalau lampu di gerbong kereta mati selama perjalanan adalah hal yang
biasa, juga kereta berhenti di terowongan. Jadi, saya sungguh ketakutan ketika
beberapa kali lampu mati dan kereta berhenti di terowongan. (Untung waktu itu saya
belum ngeh kalau di antara stasiun metro Foggy Bottom dan Rosslyn kereta lewat
terowongan di bawah sungai Potomac.)
Sungguh lega waktu akhirnya bisa sampai di
stasiun metro Ballston dengan selamat. Namun ketakutan masih belum hilang. Saya dengar dan di udara saya bisa lihat dengan jelas beberapa pesawat tempur F16
berputar-putar. Sesampai di apartemen dan menonton berita baru saya tahu bahwa
pesawat tempur tersebut berpatroli menyusul dugaan akan adanya serangan ke
Gedung Putih. Sore itu, dari seorang teman yang sudah cukup lama tinggal di
Arlington, saya juga baru tahu kalau Pentagon ternyata terletak hanya 3 mil
dari apartemen saya.
Sungguh hari yang
mencekam.