Thursday, February 2, 2017

11 September 2001

11 September 2011 hari pertama saya mengajar di Paul H. Nitze School of Advanced International Studies (SAIS). Saya bangun pagi-pagi penuh semangat dan terus terang sedikit kuatir. Bagaimana tidak. Hari itu hari pertama saya akan mengajar sebagai dosen penuh di sebuah universitas ternama di AS. Untuk mengurangi kekuatiran dan menambah rasa percaya diri, saya pilih baju tanpa lengan kesukaan saya waktu itu, merah tua dengan pola bunga. Di bawahnya saya pakai kaos putih lengan panjang, stoking nude, dan sepatu kulit coklat tanpa tumit. Nyaman untuk udara musim gugur yang belum terlalu dingin dan saya merasa cantik.

Saya siap berangkat. Dengan berdendang di dalam hati saya berjalan dari apartemen saya di Arlington ke stasiun metro Ballston. Untuk memperpendek rute saya lewat mall Ballston. Di sebelah kiri pintu masuk ada sebuah bank. Di dindingnya ada tv besar. Di layar terlihat sebuah laporan kebakaran. Tanpa banyak perhatian saya teruskan langkah saya. Perjalanan di metro lancar. Saya turun di stasiun Dupont Circle setelah ganti kereta di stasiun Metro Center. Dari Dupont Circle saya berjalan kira-kira 10 menit ke gedung Rome di mana kantor dan kelas saya berada. 

Ada apa ya? Saya tak menghiraukan banyak mahasiswa yang berkerumun di depan tv di lobi. Mungkin ada berita menarik. Saya langsung menuju ke lantai tiga untuk bersiap-siap. Keluar dari elevator saya lihat banyak mahasiswa dan dosen bahasa lain yang juga berkerumun di depan tv. Saya mulai ingin tahu. Saya mendekat dan dosen bahasa Arab memberitahu kalau ada serangan teroris di New York. Saya ikut nonton. Sungguh mengerikan. Tidak menyangka kekejian seperti itu dirancang dan dilaksanakan. 

Direktur interim program studi bahasa asing mengumumkan bahwa kelas hari itu dibatalkan. Kami disarankan untuk pulang. Waktu saya akan keluar gedung ada pemberitahuan lain bahwa metro ditutup sementara menyusul serangan ketiga ke Pentagon. Saya kembali ke lantai tiga. Kira-kira sejam kemudian diberitakan bahwa metro sudah beroperasi lagi. 

Kekacauan di jalan. Saya segera keluar, berjalan ke stasiun metro. Jalanan penuh orang. Mereka, seperti saya, mau pulang. Orang tidak saja memenuhi trotoar tapi juga jalan-jalan yang membuat kendaraan susah bergerak. Stasiun metro juga penuh orang. Kami berdiri di sepanjang platform menunggu kereta api. Kami berdesak-desakan di dalam kereta api. Saya tidak dapat tempat duduk. Tidak ada lagi aturan personal space. Saya berdiri tanpa pegangan dan ketika kereta berhenti mendadak saya tidak terjatuh, penumpang di sekitar saya menopang badan saya. Kami betul-betul packed like sardines

Ada dua hal yang menakutkan dalam perjalanan pulang itu. Sistem metro baru bagi saya. Saya baru pindah ke Arlington pertengahan Juli tahun itu dan belum sering naik metro. Saya tidak tahu kalau lampu di gerbong kereta mati selama perjalanan adalah hal yang biasa, juga kereta berhenti di terowongan. Jadi, saya sungguh ketakutan ketika beberapa kali lampu mati dan kereta berhenti di terowongan. (Untung waktu itu saya belum ngeh kalau di antara stasiun metro Foggy Bottom dan Rosslyn kereta lewat terowongan di bawah sungai Potomac.) 

Sungguh lega waktu akhirnya bisa sampai di stasiun metro Ballston dengan selamat. Namun ketakutan masih belum hilang. Saya dengar dan di udara saya bisa lihat dengan jelas beberapa pesawat tempur F16 berputar-putar. Sesampai di apartemen dan menonton berita baru saya tahu bahwa pesawat tempur tersebut berpatroli menyusul dugaan akan adanya serangan ke Gedung Putih. Sore itu, dari seorang teman yang sudah cukup lama tinggal di Arlington, saya juga baru tahu kalau Pentagon ternyata terletak hanya 3 mil dari apartemen saya.

Sungguh hari yang mencekam.


Bad Habit

I have been developing a bad habit these last couple of years. When in a library, book store, thrift store, or garage sale, I tend to buy one or two books; mostly fiction but a handful are non fiction of various genres. They are not expensive, $.25 to $1 at the most, because I do not want to spend a lot of money and I mostly spend my recehan, small change. In addition to that, having a smart phone and being able to find free e-books easily with an already built-in app, I am sadly almost an e-book hoarder. This habit would be okay, or even great, if I read fast and spent a lot a lot of time reading. 

The fact is I do not like reading, but I have this idea that I have to read. Why read? I do not belong to any book club. I do not talk seriously about what I read with other people, except with my husband, Paul. Besides, I usually only remember the big plot of the story. Many of the details are left forgotten. Yes, I do need to learn literary interpretation.

Somehow I believe that reading is a good exercise for one’s mind. Once I read somewhere that an active brain delays the onset of kepikunan, senility.

So, what now? Since I read slowly and sparingly, I end up with books gathering dust in my little condo and e-book files taking space in my smart phone memory. Should I resolute to learn to read faster and spend more time reading? Otherwise, I have to quit buying books. Oh, the dilemma.

Musim Panas 2016

Musim panas 2016 ini ke-13 saya mengajar bahasa Indonesia di program Southeast Asian Studies Summer Institute (SEASSI) di University of Wisconsin at Madison. Kali ini pengalaman saya terasa lebih daripada musim-musim panas sebelumnya; lebih aktif, lebih sering bepergian, dan lebih rajin.

Secara fisik saya lebih aktif. Setiap mahasiswa, pegawai, dan dosen UW mendapat subsidi untuk naik bis kota. Selama musim panas, dosen hanya membayar $10 untuk memperoleh bus pass (di Madison ongkos naik bis sekali jalan $2). Murah sekali, kan? Bayangkan! Di DC saya harus mengeluarkan uang sebesar kira-kira $15 sehari untuk ongkos bis dan kereta api bawah tanah. Musim panas ini saya sengaja tidak membeli bus pass. Dengan begitu saya tidak tergoda untuk naik bis kalau udaranya terlalu panas, terlalu lembab, kalau kebetulan hujan atau bawaan saya lebih berat dari biasany. Alhasih, setiap hari kerja, Senin - Jumat, saya harus berjalan kaki ke kampus dan pulang. Jarak dari apartemen saya ke kantor saya di gedung Van Hise sekitar 0,7 mil atau 1,12 km. Selain itu, sering sesudah makan siang kalau udaranya tidak terlalu lembab, saya dan beberapa teman dosen berjalan- jalan di sepanjang tepi Danau Mendota, di dekat gedung Van Hise, selama kurang lebih 30 menit. Rute pulang saya lebih panjang lagi karena biasanya saya menemui suami saya di Memorial Union, Memorial Library, atau warung kopi di pusat kota Madison, lalu kami berjalan pulang. Tambahan lagi, saya berjalan-jalan dengan Pilot, anjing kami, dua kali sehari, pagi dan sore, mengelilingi kompleks apartemen kami dengan total waktu sekali jalan 15 - 20 menit. 

Selama akhir pekan saya juga cukup aktif. Pada hari Sabtu beberapa kali saya pergi ke pasar petani di sekeliling gedung kantor gubernur Wisconsin yang jaraknya kira-kira 1 km dari apartemen saya. Ini rekor tersering karena hal yang biasa selama musim panas saya tidak sekali pun ke pasar petani. Perlu dicatat bahwa pasar petani merupakan event ekonomi dan wisata besar di Madison, WI. Lalu, siang atau sorenya saya dan suami saya berjalan-jalan di mal, berbelanja, makan di luar, dan/atau ke rumah teman yang mengadakan pesta. Hari Minggu saya awali dengan berjalan ke gereja. Biasanya saya ke gereja Katholik St. Paul, paroki kampus UW, di kompleks kampus yang berjarak sekitar 1 km dari apartemen saya. Tapi, summer ini, gereja St. Paul sedang dalam tahap pembangunan (gedung gereja lama dirobohkan awal musim panas atau akhir musim gugur ðŸ˜­) dan misa hari Minggu diselenggarakan di gereja St. James, 5 menit jalan kaki dari apartemen. Sesudah misa, saya berjalan-jalan dengan Pilot. Sore atau malamnya berjalan-jalan lagi dengan Paul. Ya, sering jalan kaki musim panas ini.

Saya juga pergi ke lebih banyak tempat summer ini. Selain beberapa kali kunjungan ke pasar petani yang saya sebutkan di atas, musim panas ini saya untuk pertama kalinya berjalan-jalan di arboretum, Olbrich Gardens, dan Wingra Park. Dengan sejumlah teman saya mempunyai kesempatan untuk melihat bukit bunga matahari, melihat-lihat di pusat perbelanjaan di Middletown, kota tetangga Madison. Rencana ke beberapa tempat dan kota lain belum terpenuhi. Mudah-mudahan musim panas tahun depan.

Musim panas di Madison selalu penuh dengan acara makan-makan. Pertama, makan siang di kampus dengan menu yang dimasak para pengajar bahasa Imdonesia secara bergiliran. Kali ini ditambah dua pengajar bahasa Hmong yang jago memasak juga. Lalu, pesta Idul Fitri dua kali; kesatu dengan mahasiswa program bahasa Indonesia dan kedua dengan sejumlah warga. Makan di luar tidak pernah ketinggalan, baik di restoran maupun di gerobak makanan di depan perpustakaan utama Universitas. Es krim Bobcat tentu saja. Yang belum saya coba adalah fried cheese curd. Lho kok bisa? Ya itu, saya sendiri pun tak tahu.

Walaupun mungkin tidak banyak untuk orang yang super aktif, pada musim panas 2016 ini saya merasa lebih aktif dan dengan begitu lebih menikmati Madison dan sekitarnya, termasuk orang-orangnya.