Dahulu kala adalah seorang kawula dalem keraton Solo yang tugasnya mengumpulkan upeti dari daerah-daerah kekuasaan keraton. Nama beliau Den Rangga.
Den Rangga mempunyai seorang istri yang tinggal di Penularan, Solo. Mereka mempunyai 2 orang anak; Surati dan Sutadi. Ketika dewasa, Sutadi menikah dengan Suwiji. Mereka simbah kakung dan simbah putri penulis. Mereka mempunyai 3 anak; Sutarti, Sutarni, dan Sanyata.
Dalam sebuah perjalanan tugas ke desa Biru, Den Rangga jatuh cinta kepada seorang gadis di sana. Sesudah menikah, mereka dikaruniai 3 anak; Suta, Krama, dan Pringgo. Sampai sekarang beberapa anak cucu mereka masih tinggal di Biru.
Beberapa saat setelah bu Rangga Solo meninggal, Den Rangga menikahi adik perempuan almarhumah. Mereka mempunyai 1 anak; Citro Radyaka.
Den Rangga mempunyai seorang istri lain yang juga tinggal di Solo. Mereka mempunyai 4 anak; Sujito, Sutarman, Sutani, Suwardi.
Di samping pekerjaan tetapnya, Sutarman bekerja di keraton. Dia ikut tungguk [= piket] di keraton dari jam 20.00 sampai pagi sebulan sekali dengan honor Rp.15.000/ bulan. Menurutnya, yang penting dalam pekerjaannya itu bukan uangnya melainkan mendapat pangestu dari raja.
Keluarga Sutadi muda tinggal di Gebalen, Solo, bertetangga dengan anak-anak Den Rangga dari istri keempat. Sanyata sering dipanggil 'Gus Nyata' dan Sutarni 'Mbok Ra' (Mbok Rara Sutarni).
Selama belajar di SGB Sragen, Sutarni tinggal dengan keluarga Citro Radyaka.
NB: Informasi baru akan ditambahkan.
As a kid, I kept a diary full with my mundane day-to-day activities. Thanks goodness, those years have passed. On this blog I'd like to jot down my opinions, observations, memories, etc. which definitely are much more interesting than my childhood diary's entries.
Thursday, August 11, 2016
Silsilah Keluarga Rangga
Dahulu kala adalah seorang kawula dalem keraton Solo yang tugasnya mengumpulkan upeti dari daerah-daerah kekuasaan keraton. Nama beliau Den Rangga.
Den Rangga mempunyai seorang istri yang tinggal di Penularan, Solo. Mereka mempunyai 2 orang anak; Surati dan Sutadi. Ketika dewasa, Sutadi menikah dengan Suwiji. Mereka simbah kakung dan simbah putri penulis. Mereka mempunyai 3 anak; Sutarti, Sutarni, dan Sanyata.
Dalam sebuah perjalanan tugas ke desa Biru, Den Rangga jatuh cinta kepada seorang gadis di sana. Sesudah menikah, mereka dikaruniai 3 anak; Suta, Krama, dan Pringgo. Sampai sekarang beberapa anak cucu mereka masih tinggal di Biru.
Beberapa saat setelah bu Rangga Solo meninggal, Den Rangga menikahi adik perempuan almarhumah. Mereka mempunyai 1 anak; Citro Radyaka.
Den Rangga mempunyai seorang istri lain yang juga tinggal di Solo. Mereka mempunyai 4 anak; Sujito, Sutarman, Sutani, Suwardi.
Di samping pekerjaan tetapnya, Sutarman bekerja di keraton. Dia ikut tungguk [= piket] di keraton dari jam 20.00 sampai pagi sebulan sekali dengan honor Rp.15.000/ bulan. Menurutnya, yang penting dalam pekerjaannya itu bukan uangnya melainkan mendapat pangestu dari raja.
Keluarga Sutadi muda tinggal di Gebalen, Solo, bertetangga dengan anak-anak Den Rangga dari istri keempat. Sanyata sering dipanggil 'Gus Nyata' dan Sutarni 'Mbok Ra' (Mbok Rara Sutarni).
Selama belajar di SGB Sragen, Sutarni tinggal dengan keluarga Citro Radyaka.
NB: Informasi baru akan ditambahkan.
Den Rangga mempunyai seorang istri yang tinggal di Penularan, Solo. Mereka mempunyai 2 orang anak; Surati dan Sutadi. Ketika dewasa, Sutadi menikah dengan Suwiji. Mereka simbah kakung dan simbah putri penulis. Mereka mempunyai 3 anak; Sutarti, Sutarni, dan Sanyata.
Dalam sebuah perjalanan tugas ke desa Biru, Den Rangga jatuh cinta kepada seorang gadis di sana. Sesudah menikah, mereka dikaruniai 3 anak; Suta, Krama, dan Pringgo. Sampai sekarang beberapa anak cucu mereka masih tinggal di Biru.
Beberapa saat setelah bu Rangga Solo meninggal, Den Rangga menikahi adik perempuan almarhumah. Mereka mempunyai 1 anak; Citro Radyaka.
Den Rangga mempunyai seorang istri lain yang juga tinggal di Solo. Mereka mempunyai 4 anak; Sujito, Sutarman, Sutani, Suwardi.
Di samping pekerjaan tetapnya, Sutarman bekerja di keraton. Dia ikut tungguk [= piket] di keraton dari jam 20.00 sampai pagi sebulan sekali dengan honor Rp.15.000/ bulan. Menurutnya, yang penting dalam pekerjaannya itu bukan uangnya melainkan mendapat pangestu dari raja.
Keluarga Sutadi muda tinggal di Gebalen, Solo, bertetangga dengan anak-anak Den Rangga dari istri keempat. Sanyata sering dipanggil 'Gus Nyata' dan Sutarni 'Mbok Ra' (Mbok Rara Sutarni).
Selama belajar di SGB Sragen, Sutarni tinggal dengan keluarga Citro Radyaka.
NB: Informasi baru akan ditambahkan.
Subscribe to:
Comments (Atom)