Monday, November 7, 2016

Tentang Kotbah & Pemilu Presiden AS

Hari Minggu kemarin, 6 November 2016, 2 hari menjelang pemilu presiden AS, saya ikut misa di gereja paroki saya. Dalam kotbahnya pastor memberi masukan tentang bagaimana sebaiknya umat Katholik menentukan pilihan. Dia mengatakan bahwa kedua calon utama mempunyai flaws masing-masing. Jadi, sebaiknya umat memilih platform calon.
 
Pastor menyinggung dua hal; aborsi dan pernikahan homoseksual, namun hanya menekankan soal aborsi. Dikatakan bahwa umat harus membela mereka yang paling lemah, yaitu janin. Dengan demikian, umat sebaiknya memilih calon yang pro-life.
 
(Sampai di situ saya betul-betul mau walk out. Tapi, saya tetap duduk. Saya ke gereja untuk menerima Tubuh Kristus. Sabar Nona! )
 
Ada dua pikiran saya tentang kotbah pastor itu.
  • Saya tidak setuju dengan aborsi, tapi aborsi perlu dilegalkan untuk menjamin hak mereka yang non-Kristen. Pelarangan aborsi tidak akan menghilangkan aborsi. Aborsi akan tetap ada dan akan dilakukan secara diam-diam. Hal ini akan sangat berbahaya untuk keselamatan si ibu, terlebih stigma negatif terhadapnya. Sebagai orang Kristen yang bisa kita lakukan adalah menyediakan bantuan dalam segala bentuk; meteri, dukungan moril, waktu, dan apa saja untuk mencegah aborsi, BUKAN melarang aborsi.
 
  • Calon yang disiratkan oleh pastor tidak mempunyai program kesejahteraan masyarakat yang bagus. (Hal ini tidak disinggung dalam kotbah). Kalau upah minimum tinggi, mutu pendidikan meningkat, pelayanan kesehatan lebih baik dan merata niscaya tingkat pengangguran akan turun, angka kriminalitas akan berkurang, dan pada gilirannya jumlah aborsi akan menjadi sedikit.
Di Indonesia, yang merupakan negara sekuler, sebagai minoritas, saya tidak mau ada hukum dan peraturan yang berdasarkan kepercayaan kelompok mayoritas. Di AS, yang juga negara sekuler,  sebagai orang Kristen saya termasuk dalam mayoritas. Jadi, saya pun tidak mau ada hukum dan peraturan yang berdasarkan agama saya. Saya tidak mau memaksakan kebenaran yang saya percayai kepada orang lain. Mereka punya dan percaya pada kebenaran lain yang harus dihormati.
 
Selamat berpemilu AS! May God bless you.

Wednesday, October 19, 2016

Uyeng-uyeng

Biasane uyeng-uyeng kuwi rak neng tengah ndhuwur gundhul. Lha mau awan ana sawijining pasamuan lan ceramah neng kampusku, uwong lanang sing lunģguh neng ngarepku kok uyeng-uyenge neng mburi gundhule. Ora nyana ana sing kaya ngono.

Thursday, August 11, 2016

Silsilah Keluarga Rangga

Dahulu kala adalah seorang kawula dalem keraton Solo yang tugasnya mengumpulkan upeti dari daerah-daerah kekuasaan keraton. Nama beliau Den Rangga.

Den Rangga mempunyai seorang istri yang tinggal di Penularan, Solo. Mereka mempunyai 2 orang anak; Surati dan Sutadi. Ketika dewasa, Sutadi menikah dengan Suwiji. Mereka simbah kakung dan simbah putri penulis. Mereka mempunyai 3 anak; Sutarti, Sutarni, dan Sanyata.

Dalam sebuah perjalanan tugas ke desa Biru, Den Rangga jatuh cinta kepada seorang gadis di sana. Sesudah menikah, mereka dikaruniai 3 anak; Suta, Krama, dan Pringgo. Sampai sekarang beberapa anak cucu mereka masih tinggal di Biru.

Beberapa saat setelah bu Rangga Solo meninggal, Den Rangga menikahi adik perempuan almarhumah. Mereka mempunyai 1 anak; Citro Radyaka.

Den Rangga mempunyai seorang istri lain yang juga tinggal di Solo. Mereka mempunyai 4 anak; Sujito, Sutarman, Sutani, Suwardi.

Di samping pekerjaan tetapnya, Sutarman bekerja di keraton. Dia ikut tungguk [= piket] di keraton dari jam 20.00 sampai pagi sebulan sekali dengan honor Rp.15.000/ bulan. Menurutnya, yang penting dalam pekerjaannya itu bukan uangnya melainkan mendapat pangestu dari raja.

Keluarga Sutadi muda tinggal di Gebalen, Solo, bertetangga dengan anak-anak Den Rangga dari istri keempat. Sanyata sering dipanggil 'Gus Nyata' dan Sutarni 'Mbok Ra' (Mbok Rara Sutarni).

Selama belajar di SGB Sragen, Sutarni tinggal dengan keluarga Citro Radyaka.

NB: Informasi baru akan ditambahkan.

Silsilah Keluarga Rangga

Dahulu kala adalah seorang kawula dalem keraton Solo yang tugasnya mengumpulkan upeti dari daerah-daerah kekuasaan keraton. Nama beliau Den Rangga.

Den Rangga mempunyai seorang istri yang tinggal di Penularan, Solo. Mereka mempunyai 2 orang anak; Surati dan Sutadi. Ketika dewasa, Sutadi menikah dengan Suwiji. Mereka simbah kakung dan simbah putri penulis. Mereka mempunyai 3 anak; Sutarti, Sutarni, dan Sanyata.

Dalam sebuah perjalanan tugas ke desa Biru, Den Rangga jatuh cinta kepada seorang gadis di sana. Sesudah menikah, mereka dikaruniai 3 anak; Suta, Krama, dan Pringgo. Sampai sekarang beberapa anak cucu mereka masih tinggal di Biru.

Beberapa saat setelah bu Rangga Solo meninggal, Den Rangga menikahi adik perempuan almarhumah. Mereka mempunyai 1 anak; Citro Radyaka.

Den Rangga mempunyai seorang istri lain yang juga tinggal di Solo. Mereka mempunyai 4 anak; Sujito, Sutarman, Sutani, Suwardi.

Di samping pekerjaan tetapnya, Sutarman bekerja di keraton. Dia ikut tungguk [= piket] di keraton dari jam 20.00 sampai pagi sebulan sekali dengan honor Rp.15.000/ bulan. Menurutnya, yang penting dalam pekerjaannya itu bukan uangnya melainkan mendapat pangestu dari raja.

Keluarga Sutadi muda tinggal di Gebalen, Solo, bertetangga dengan anak-anak Den Rangga dari istri keempat. Sanyata sering dipanggil 'Gus Nyata' dan Sutarni 'Mbok Ra' (Mbok Rara Sutarni).

Selama belajar di SGB Sragen, Sutarni tinggal dengan keluarga Citro Radyaka.

NB: Informasi baru akan ditambahkan.