Sunday, February 15, 2015

"Anakku"

13 Februari 2003 pagi Waktu Indonesia bagian Barat di Salatiga, Jawa Tengah, bapak terkena stroke. Walaupun sempat dibawa ke rumah sakit, jiwanya tak tertolong. Siangnya jenazah bapak dimakamkan. Ibu tidak menunggu kakak Bandung dan kakak Makale. Mereka tidak menangi bapak. Hanya kakak Semarang dan adik Sragen yang bisa secara fisik melihat kepergian bapak.

Kira-kira setahun sebelumnya bapak terkena stroke. Sesudah kurang lebih sebulan opname di rumah sakit, kesehatannya membaik. Namun beberapa waktu kemudian ginjalnya tidak bekerja dengan sempurna. Memang belum sampai harus cuci darah, hanya obat jalan. Waktu itu bapak kelihatan tua dan kurus sekali. Sungguh mengejutkan karena sejak saya kecil sampai keberangkatan saya ke AS pada tahun 1997, bapak relatif gemuk dan tampak muda.

13 Februari 2003 pagi Eastern Standard Time di Arlington, VA, saya terbangun dengan senyum bahagia. Bagaimana tidak. Saya baru saja terjaga dari sebuah mimpi yang terasa begitu nyata. Bapak berjalan mendekat di samping tempat tidur saya. Berhenti, membungkuk, memegang kepala saya dengan kedua tangannya, dan mencium kening saya. Dengan suara lembut bapak berkata, "Anakku."

Setiba di kantor saya membuka e-mail. Ada 1 dari adik. Dia mengabarkan kepergian dan pemakaman bapak.

Saya terdiam, sungguh tidak percaya. Saya atur hati saya. Hari itu saya mengajar dan mengerjakan tugas-tugas lain seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Baru sorenya di rumah, saya bercerita kepada suami saya. Dan, saya baru bisa menangis.

(Sejak hari itu, ada rasa takut saat membuka e-mail.)

Peluk, cium, dan doa untuk bapak pada peringatan 12 tahun kepulangannya ke rumah Bapa hari ini.

UKSW, Mei 1993