Hari Thanksgiving di keluarga suami saya tahun 2014 ini berbeda. Bukan karena dalam pestanya tidak tersaji kalkun, hidangan khas hari Ucapan Syukur ini, karena ibu mertua saya salah memasaknya dan demi kesehatan seluruh peserta pesta beliau harus membuangnya. Walaupun begitu, semua tetap gembira, puas, dan kenyang dengan ham sebagai pengganti kalkun.
Perbedaan yang lebih penting adalah sebelum makan malam, bapak dan ibu mertua saya mengumpulkan kami; dua anak mereka (suami saya dan adik perempuannya), saya, dan seorang cucu mereka yang sudah dewasa di meja makan. Di meja di depan ibu mertua ada sebuah map tebal. Sambil mengeluarkan satu persatu dokumen dari dalam map, mereka menjelaskan rencana yang sudah mereka buat jika suatu hari kelak mereka dipanggil pulang Sang Pencipta. Seperti di kelas, kami boleh menyela kalau punya pertanyaan.
Pertama, living will (atau surat wasiat hidup?) berisi keinginan mereka kalau karena suatu sebab berada dalam kondisi koma. Surat wasiat ini terdaftar di kantor pemerintah kota. Jadi, surat ini punya kekuatan hukum dan tidak bisa diganggu gugat.
Kedua, surat wasiat juga sudah siap. Suami saya sebagai anak tertua ditunjuk menjadi pelaksana surat wasiat (executor of the will). Nanti, dia harus membuka, membaca surat wasiat itu, dan melaksanakan setiap perintah yang tertulis di sana.
Ketiga, urusan pemakaman sudah diatur rapi, mulai dari jenazah harus dibawa ke mana, kremasi, penyimpanan atau pembuangan abu - termasuk wadah abunya, dan acara celebration of their life di gereja. Selain itu, semua biaya sudah dibayar.
Saya duduk diam, tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran saya dan bagaimana perasaan saya. Tapi yang pasti, saya kagum karena persiapan yang detail, kagum mereka sudah bisa menerima kenyataan bahwa setiap orang akan menemuai ajal, kagum karena segala persiapan ini berarti bahwa mereka tidak mau dan tidak akan merepotkan keluarga yang ditinggalkan.
Memang saya dan suami saya sudah memikirkan hal-hal tersebut. Namun, kami belum melegalkan atau membuat satu pun hitam di atas putih. Apakah mungkin karena kami merasa masih muda? Sebenarnya saya tidak tahu di AS umur berapa seseorang mulai membuat surat wasiat, dll. Atau, mungkin karena kami secara materi tidak mempunyai apa-apa yang berharga.
Untuk sementara, kami sudah terdaftar sebagai donor organ yang tertulis di SIM kami.