Awal November lalu saya mendengar kabar bahwa salah seorang tetangga kami yang sudah lanjut usia, bu J, terkena stroke dan dibawa ke rumah sakit. Bu J tinggal dengan anak perempuannya. Ada seorang cucu laki-lakinya yang tinggal tidak jauh dan sering mampir. Memang betul kami bertetangga, tetapi tidak seperti di Indonesia kami tidak saling bertandang. Kami hanya saling menyapa kalau kebetulan bertemu di lobi gedung condominium kami atau di tempat parkir. Sesekali kami bertukar sapa waktu dia duduk-duduk atau merawat tanaman di balkon condonya. Itu saja. Jadi, saya tidak bezuk dia ataupun berpikir tentang dia. Semua berjalan seperti biasa.
Kira-kira dua minggu kemudian saya mendengar bahwa bu J sudah meninggal dan sudah dimakamkan. Tanpa tanda apa-apa di rumahnya. Tidak ada pemberitahuan sedikit pun dari keluarganya kepada para tetangga. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Di sini, di Amerika sesudah seseorang meninggal di rumah atau di rumah sakit, jenazahnya dikirim ke rumah pemakaman. Di sana jenazah dimandikan dan disiapkan untuk acara pemakaman. Biasanya beberapa hari kemudian ada acara viewing di mana keluarga, teman, dan kenalan bisa memberi penghormatan, mengucapkan selamat tinggal, dan melihat almarhum untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, pada hari berikutnya berlangsung acara pemakaman secara keagamaan atau sekuler. Kadang-kadang keluarga mempersilakan handai taulan dan teman almarhum datang ke rumah mereka. Acara ini seperti acara penghiburan. Tamu membawa makanan untuk dimakan bersama atau bunga untuk keluarga almarhum. Namun, sering tidak ada aktivitas apa-apa di rumah almarhum. Semua acara berlangsung di rumah pemakaman. Jadi, tidak mengherankan kalau tetangga tidak tahu ada lelayu, apalagi kalau tidak kenal baik.
Jelas saya terkejut mendengar kabar meninggalnya bu J. Sebagai orang yang besar di Indonesia, saya juga merasa bersalah karena saya tidak tahu atau mencari tahu tentang kondisinya sesudah terkena stroke. Saya bicara kepada suami saya dan mengusulkan mungkin kami harus berkunjung untuk mengucapkan bela sungkawa. Suami saya sambil menghibur saya mengatakan bahwa hal itu tidak perlu. Kalau anak dan cucu bu J memutuskan untuk tidak memberitahu kami, tetangganya, itu berarti mereka tidak ingin kami tahu. Mungkin mereka tidak mau menganggu kami. Dan, yang lebih pasti mereka ingin kami tidak mengusik mereka. Mereka ingin privacy.
As a kid, I kept a diary full with my mundane day-to-day activities. Thanks goodness, those years have passed. On this blog I'd like to jot down my opinions, observations, memories, etc. which definitely are much more interesting than my childhood diary's entries.
Tuesday, December 16, 2014
Monday, December 8, 2014
Hari Thanksgiving Tahun Ini Berbeda
Hari Thanksgiving di keluarga suami saya tahun 2014 ini berbeda. Bukan karena dalam pestanya tidak tersaji kalkun, hidangan khas hari Ucapan Syukur ini, karena ibu mertua saya salah memasaknya dan demi kesehatan seluruh peserta pesta beliau harus membuangnya. Walaupun begitu, semua tetap gembira, puas, dan kenyang dengan ham sebagai pengganti kalkun.
Perbedaan yang lebih penting adalah sebelum makan malam, bapak dan ibu mertua saya mengumpulkan kami; dua anak mereka (suami saya dan adik perempuannya), saya, dan seorang cucu mereka yang sudah dewasa di meja makan. Di meja di depan ibu mertua ada sebuah map tebal. Sambil mengeluarkan satu persatu dokumen dari dalam map, mereka menjelaskan rencana yang sudah mereka buat jika suatu hari kelak mereka dipanggil pulang Sang Pencipta. Seperti di kelas, kami boleh menyela kalau punya pertanyaan.
Pertama, living will (atau surat wasiat hidup?) berisi keinginan mereka kalau karena suatu sebab berada dalam kondisi koma. Surat wasiat ini terdaftar di kantor pemerintah kota. Jadi, surat ini punya kekuatan hukum dan tidak bisa diganggu gugat.
Kedua, surat wasiat juga sudah siap. Suami saya sebagai anak tertua ditunjuk menjadi pelaksana surat wasiat (executor of the will). Nanti, dia harus membuka, membaca surat wasiat itu, dan melaksanakan setiap perintah yang tertulis di sana.
Ketiga, urusan pemakaman sudah diatur rapi, mulai dari jenazah harus dibawa ke mana, kremasi, penyimpanan atau pembuangan abu - termasuk wadah abunya, dan acara celebration of their life di gereja. Selain itu, semua biaya sudah dibayar.
Saya duduk diam, tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran saya dan bagaimana perasaan saya. Tapi yang pasti, saya kagum karena persiapan yang detail, kagum mereka sudah bisa menerima kenyataan bahwa setiap orang akan menemuai ajal, kagum karena segala persiapan ini berarti bahwa mereka tidak mau dan tidak akan merepotkan keluarga yang ditinggalkan.
Memang saya dan suami saya sudah memikirkan hal-hal tersebut. Namun, kami belum melegalkan atau membuat satu pun hitam di atas putih. Apakah mungkin karena kami merasa masih muda? Sebenarnya saya tidak tahu di AS umur berapa seseorang mulai membuat surat wasiat, dll. Atau, mungkin karena kami secara materi tidak mempunyai apa-apa yang berharga.
Untuk sementara, kami sudah terdaftar sebagai donor organ yang tertulis di SIM kami.
Perbedaan yang lebih penting adalah sebelum makan malam, bapak dan ibu mertua saya mengumpulkan kami; dua anak mereka (suami saya dan adik perempuannya), saya, dan seorang cucu mereka yang sudah dewasa di meja makan. Di meja di depan ibu mertua ada sebuah map tebal. Sambil mengeluarkan satu persatu dokumen dari dalam map, mereka menjelaskan rencana yang sudah mereka buat jika suatu hari kelak mereka dipanggil pulang Sang Pencipta. Seperti di kelas, kami boleh menyela kalau punya pertanyaan.
Pertama, living will (atau surat wasiat hidup?) berisi keinginan mereka kalau karena suatu sebab berada dalam kondisi koma. Surat wasiat ini terdaftar di kantor pemerintah kota. Jadi, surat ini punya kekuatan hukum dan tidak bisa diganggu gugat.
Kedua, surat wasiat juga sudah siap. Suami saya sebagai anak tertua ditunjuk menjadi pelaksana surat wasiat (executor of the will). Nanti, dia harus membuka, membaca surat wasiat itu, dan melaksanakan setiap perintah yang tertulis di sana.
Ketiga, urusan pemakaman sudah diatur rapi, mulai dari jenazah harus dibawa ke mana, kremasi, penyimpanan atau pembuangan abu - termasuk wadah abunya, dan acara celebration of their life di gereja. Selain itu, semua biaya sudah dibayar.
Saya duduk diam, tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran saya dan bagaimana perasaan saya. Tapi yang pasti, saya kagum karena persiapan yang detail, kagum mereka sudah bisa menerima kenyataan bahwa setiap orang akan menemuai ajal, kagum karena segala persiapan ini berarti bahwa mereka tidak mau dan tidak akan merepotkan keluarga yang ditinggalkan.
Memang saya dan suami saya sudah memikirkan hal-hal tersebut. Namun, kami belum melegalkan atau membuat satu pun hitam di atas putih. Apakah mungkin karena kami merasa masih muda? Sebenarnya saya tidak tahu di AS umur berapa seseorang mulai membuat surat wasiat, dll. Atau, mungkin karena kami secara materi tidak mempunyai apa-apa yang berharga.
Untuk sementara, kami sudah terdaftar sebagai donor organ yang tertulis di SIM kami.
Sunday, January 5, 2014
Daftar Negara Bagian di AS yang Pernah Aku Kunjungi
1. Arizona
2. California
3. Connecticut
4. Washington, DC
5. Indiana
6. Illinois
7. Kentucky
8. Michigan
9. Minnesota
10. New York
11. North Carolina West
12. Ohio
13. Philadelphia
14. South Carolina
15. Virginia
16. West Virginia
17. Wisconsin
2. California
3. Connecticut
4. Washington, DC
5. Indiana
6. Illinois
7. Kentucky
8. Michigan
9. Minnesota
10. New York
11. North Carolina West
12. Ohio
13. Philadelphia
14. South Carolina
15. Virginia
16. West Virginia
17. Wisconsin
Wednesday, January 1, 2014
Tahun Baru 2014
Biasanya tahun baru diawali dengan resolusi atau tekad untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang belum sempat diwujudkan pada tahun sebelumnya.
Sewaktu kecil aku tidak pernah punya resolusi. Aku kira ini bukan merupakan kebiasaan orang Indonesia, paling tidak saat aku di sana. Keluarga, teman-teman, dan orang-orang di sekitarku tidak pernah berbicara tentang resolusi tahun baru. Sejak aku tinggal di AS dan belajar tentang kebiasaan mempunyai resolusi, dan aku mencoba membuat resolusi.
Selama beberapa tahun resolusiku adalah mengurangi berat badan. Sayangnya, tidak pernah tercapai. Selain karena kurang, atau lebih tepatnya tidak punya, disiplin, aku sadar bahwa motivasiku tidak kuat. Aku juga tidak pernah punya tim pendukung. Resolusiku seperti rahasiaku. Jadi, kalau aku gagal, tidak seorang pun akan tahu.
Kemudian, aku menjadi lebih realis. Resolusi tahun baruku bukan menurunkan berat badan lagi, melainkan mengurangi jumlah makanan yang aku konsumsi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa motivasi, disiplin, dan tim pendukung, resolusi itu hanya bertahan paling lama dua minggu.
Beberapa tahun terakhir ini aku tidak membuat resolusi tahun baru. Hal ini merupakan tindakan yang aku kira masuk akal sekali. Alhasih, aku memasuki tahun baru tanpa beban, tanpa harapan semu.
Selamat tahun baru 2014.
Sewaktu kecil aku tidak pernah punya resolusi. Aku kira ini bukan merupakan kebiasaan orang Indonesia, paling tidak saat aku di sana. Keluarga, teman-teman, dan orang-orang di sekitarku tidak pernah berbicara tentang resolusi tahun baru. Sejak aku tinggal di AS dan belajar tentang kebiasaan mempunyai resolusi, dan aku mencoba membuat resolusi.
Selama beberapa tahun resolusiku adalah mengurangi berat badan. Sayangnya, tidak pernah tercapai. Selain karena kurang, atau lebih tepatnya tidak punya, disiplin, aku sadar bahwa motivasiku tidak kuat. Aku juga tidak pernah punya tim pendukung. Resolusiku seperti rahasiaku. Jadi, kalau aku gagal, tidak seorang pun akan tahu.
Kemudian, aku menjadi lebih realis. Resolusi tahun baruku bukan menurunkan berat badan lagi, melainkan mengurangi jumlah makanan yang aku konsumsi. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tanpa motivasi, disiplin, dan tim pendukung, resolusi itu hanya bertahan paling lama dua minggu.
Beberapa tahun terakhir ini aku tidak membuat resolusi tahun baru. Hal ini merupakan tindakan yang aku kira masuk akal sekali. Alhasih, aku memasuki tahun baru tanpa beban, tanpa harapan semu.
Selamat tahun baru 2014.
Subscribe to:
Comments (Atom)