Kemarin saya dan suami saya berbincang-bincang tentang perkembangan kasus kecelakaan kapal pesiar Costa Concordia di Italia 13 Januari 2012 dan tragedi kapal pesiar Carnival di AS beberapa waktu lalu. Perbicangan itu mengingatkan saya pada perjalanan saya naik kapal PELNI pada tahun 1997.
Waktu itu, mungkin bulan Juli 1997, saya melakukan perjalanan ke Tana Toraja untuk mengunjungi kakak saya dan keluarganya yang tinggal di luar kota Makale. Selain untuk bersilaturahmi karena belum sempat bertemu kedua anaknya yang masih kecil, saya juga ingin pamitan karena bulan September tahun yang sama saya akan berangkat ke Amerika Serikat untuk studi lanjut.
Setelah pikir-pikir, saya memutuskan untuk naik kapal. Alasan utamanya: ingin mencoba karena selama itu belum pernah naik kapal. Saya juga memutuskan untuk membeli tiket kelas ekonomi karena di kelas I - III penumpang berbagi kamar dengan penumpang lain. Saya tidak merasa enak berbagi kamar dengan orang yang tidak saya kenal. Jadilah saya di kelas ekonomi berbagi bangsal dengan ratusan penumpang lain.
Singkat cerita saya sampai di pelabuhan Surabaya. Waktu menunggu panggilan masuk kapal, saya berkenalan dengan seorang anggota AD yang ditugaskan di Tana Toraja. Namanya Sugeng. Tahu saya sendirian, mas Sugeng menawarkan diri untuk menemani saya. Instink saya mengatakan, mas Sugeng ini orangnya baik. Memang dia sopan sekali.
Sesudah ada panggilan masuk kapal, saya berjalan di samping dan/atau di belakang mas Sugeng. Sungguh heran saya akan banyaknya orang yang masuk kapal dan sangat tidak teraturnya mereka (dan tidak ada petugas yang mengatur). Mereka berdesakan dan berlomba-lomba masuk duluan.
Begitu sampai di bangsal kelas ekonomi, saya baru mengerti mengapa orang-orang berlomba-lomba masuk kapal. Ketika saya sampai di dalam kapal semua tempat tidur sudah ditempati orang. Lantai di pojok-pojok ruangan dan tempat-tempat yang 'enak' lainnya juga sudah diduduki penumpang lain. Mereka menggelar tikar dan menempatkan kopor dan bawaan mereka sedemikian rupa di sekitar tikar itu. Saya masih mengikuti mas Sugeng. Dia menemukan lantai kosong di bawah tangga (yang tidak tahu menuju ke mana. Selama perjalanan tidak ada awak kapal yang naik atau turun tangga itu). Di situ sudah ada beberapa penumpang yang duduk-duduk di atas tikar. Sejak kami memasuki kapal hingga di bawah tangga itu, beberapa calo berusaha 'menjual' area mereka kepada saya. Mereka bilang Rp. 10.000,- Saya tidak menanggapi mereka karena begitu saran mas Sugeng.
Saya meletakkan ransel saya di lantai di bawah tangga. Mas Sugeng juga dan minta saya menunggu di situ. Katanya dia harus menemui komandannya dulu yang juga ada di kapal itu. Karena ketakutan kalau saya disuruh pergi atau dimintai uang para calo, mas Sugeng meletakkan topi seragamnya (sayang saya lupa dia dari satuan apa) di atas ranselnya. Dia juga berkata kalau ada calo yang mau macam-macam, suruh mereka menunggu dia. Jadilah, saya menunggui ransel kami sampai dia kembali. Betul juga, tidak ada calo yang berani minta 'uang sewa' lantai.
Ya sudah selama 24 jam perjalanan kapal itu saya, mas Sugeng, dan beberapa penumpang lain yang menjadi 'tetangga' saya berbagi lantai dan cerita. Karena capai, akhirnya saya bisa tidur juga. Hari berikutnya saya diantar mas Sugeng jalan-jalan keliling kapal. Saya ingat hari itu hari Jumat karena ada sembahyang Jumat di mushola kapal. Dari atas dek kapal saya bisa melihat ikan terbang seakan berenang berlomba dengan kapal kami. Sejauh mata memandang, hanya air dan air dan air. Saya betul-betul sadar waktu itu bahwa saya orang gunung; saya perlu melihat daratan supaya tidak menjadi gila.
Saat itu saya juga menyadari betapa tidak layaknya pelayanan PELNI. Ada terlalu banyak penumpang. Saya tidak tahu dengan pasti berapa kapasitas kapal itu dan berapa jumlah penumpang waktu itu. Tetapi faktanya, semua tempat tidur dan ruang lantai 'dihuni' penumpang. Selain itu, kondisi kamar mandi tidak bersih sama sekali dan fasilitasnya tidak memadai - pintu tidak bisa ditutup dengan rapat, tidak ada tempat untuk meletakkan tas atau alat mandi, dll. Dari atas dek, saya melihat pelampung dan
life boats dalam jumlah yang tidak memadai jika dibandingkan dengan jumlah penumpang kapal. Di samping itu rantai-rantai pengikat
life boats terlihat berkarat. Seandainya ada keadaan darurat, apakah
life boats itu bisa diturunkan dengan mudah? Mungkin tidak. Soal makanan. Saya tidak akan mengeluh tentang menu, rasa, dan porsinya. Yang menurut saya lebih 'menyakiti' adalah nasi, sayur, dan lauknya disajikan satu nampan per penumpang tanpa sendok dan garpu ataupun serbet. Lalu bagaimana kami harus makan sayurnya yang berkuah? Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan yang paling memprihatinkan, pada awal perjalanan tidak ada penjelasan tentang keadaan darurat dan bagaimana bereaksi dalam keadaan darurat, prosedur evakuasi, dll. Terbersit dalam benak saya, kalau kapal ini tenggelam, nasibnya akan sama dengan KMP Tampomas II pada tanggal 27 Januari 1981.
Sejak perjalanan dengan kapal PELNI itu saya kira saya tidak akan lagi naik kapal jarak jauh. Sekali saja cukup, meskipun dengan pelayanan yang bagus. Bagaimanapun, keinginan saya untuk mencoba naik kapal terpenuhi. Terima kasih banyak kepada mas Sugeng yang sudah membuat saya merasa aman dan karena dialah saya bisa sedikit menikmati perjalanan itu.
 |
| Bersama Penumpang Lain. Di sinilah kami duduk-duduk dan tidur. |
 |
| Terima kasih mas Sugeng. |