On Saturday, July 16, 2011 SEASSI (Southeast Asian Studies Summer Institute) held its 9th Poetry Night in the Pyle Center, University of Wisconsin - Madison. SEASSI students and teachers recited poems and sang songs in Burmese, Filipino, Hmong, Indonesian, Javanese, Khmer, Lao, Thai, and Vietnamese.
I was very honored and proud to read a Javanese poem entitled "Tangkuban Prau." It was written by Nuniek Wulandari and first published in Penyebar Semangat, No. 16, 19 April 1986. I found this beautiful poem in Kalung Barleyan: Antologi Puisi Jawa Modern Penyair Wanita. 1988. Hutomo, Suripan. S. Ed. Surabaya: Pusat Pengabdian pada Masyarakat IKIP Surabaya.
Paul translated the poem into English and read it.
Here it is;
Tangkuban Prau
kaping pindho daktlusur lengkehmu
nrutus kapang kang nate kecicir ing lambe kawahmu
panggah kaya biyen
tekaku nggawa pisambat lan kasepen
dayang Sumbi
tuduhna ing endi katresnan jati
ing kawahmu
ing pucuk-pucuk pinusmu
ing uwuh lirangmu
apa ing telenging atiku?
ah, pedhut lan angin kang miyak sayak
apa kowe ngerti karepku?
Tangkuban Prau, 19 Desember 1985
Following is Paul's translation;
Tangkuban Prau
for the second time i'm tracing your crevasses for that longing;
remember when i accidently brushed your lips, the lips of your crater.
a little tear in my seed purse--my seed effortlessy wasted
--falling fluent unnoticed
nothing changes--
today it's swollen with complaints and loneliness, my purse:
dearest Sumbi, where did you conceal your love?
should i query your dark funnel again;
beat your soft brush shadows for answers,
look for other residue in your bright sulfur slicks;
...
or, warm night's wind that flirts with my dress-hem,
lifts my skirts,
do you know what i am looking for?
Check us out on youtube.
http://www.youtube.com/watch?v=97B6S_K7-VQ
As a kid, I kept a diary full with my mundane day-to-day activities. Thanks goodness, those years have passed. On this blog I'd like to jot down my opinions, observations, memories, etc. which definitely are much more interesting than my childhood diary's entries.
Thursday, July 21, 2011
Monday, July 4, 2011
Burung-burung Manyar

(Foto dari: http://http//www.kicaumania.org/forums/showthread.php?5759-Burung-Manyar-(ploceus-Manyar)
Penulis: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Djambatan, Jakarta 1981
WARNING: Do not read this review if you have not read the novel and plan to do so, unless you don't mind knowing the ending beforehand.
Para pelaku:
Setadewa aka Teto, putra tunggal Kapten Brajabasuki, tentara KNIL, dan Marice, perempuan indo, doktor matematika.
Larasati aka Atik, putri tunggal bapak dan ibu Antana, doktor biologi.
Janakatamsi aka Jon, suami Atik, ahli geologi.
Penerbit: Djambatan, Jakarta 1981
WARNING: Do not read this review if you have not read the novel and plan to do so, unless you don't mind knowing the ending beforehand.
Para pelaku:
Setadewa aka Teto, putra tunggal Kapten Brajabasuki, tentara KNIL, dan Marice, perempuan indo, doktor matematika.
Larasati aka Atik, putri tunggal bapak dan ibu Antana, doktor biologi.
Janakatamsi aka Jon, suami Atik, ahli geologi.
Ploceus Manyar
Kisah cinta dua anak manusia dengan latar belakang keluarga bangsawan Surakarta, yang berhasil gemilang dalam hidup namun mendamba cinta sejati.
Tragedi cinta karena kesombongan dan situasi politik Indonesia pra-Jepang, selama pendudukan Jepang, perang revolusi, sampai saat kemerdekaan RI.
Pada akhir buku Mangunwijawa 'membunuh' Larasati dan Janakatamsi dalam perjalanan mereka naik haji. Mungkin penulis berpikir hal ini harus terjadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan; menghindari tumbuhnya cinta terlarang antara Atik dan Teto. Sekaligus dia ingin meneguhkan hubungan suami istri Atik dan Jon.
Sementara Teto diberi kesempatan untuk 'menebus' dosa-dosa masa lalunya dengan mengadopsi dan mengasuh ketiga anak Atik dan Jon. Dan untuk menunjukkan betapa suci cintanya kepada Atik, dia berkeputusan, paling tidak sampai waktu cerita selesai, untuk tidak menikah lagi.
Dengan demikian Teto diberi waktu, seperti burung manyar jantan, untuk membangun 'sarang' baru guna menata hatinya dan menarik betina lain.
Kisah cinta dua anak manusia dengan latar belakang keluarga bangsawan Surakarta, yang berhasil gemilang dalam hidup namun mendamba cinta sejati.
Tragedi cinta karena kesombongan dan situasi politik Indonesia pra-Jepang, selama pendudukan Jepang, perang revolusi, sampai saat kemerdekaan RI.
Pada akhir buku Mangunwijawa 'membunuh' Larasati dan Janakatamsi dalam perjalanan mereka naik haji. Mungkin penulis berpikir hal ini harus terjadi untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan; menghindari tumbuhnya cinta terlarang antara Atik dan Teto. Sekaligus dia ingin meneguhkan hubungan suami istri Atik dan Jon.
Sementara Teto diberi kesempatan untuk 'menebus' dosa-dosa masa lalunya dengan mengadopsi dan mengasuh ketiga anak Atik dan Jon. Dan untuk menunjukkan betapa suci cintanya kepada Atik, dia berkeputusan, paling tidak sampai waktu cerita selesai, untuk tidak menikah lagi.
Dengan demikian Teto diberi waktu, seperti burung manyar jantan, untuk membangun 'sarang' baru guna menata hatinya dan menarik betina lain.
Subscribe to:
Comments (Atom)