Suatu hari di pertengahan tahun 1990an saya bertemu om S, bapak seorang teman istimewa saya sejak SMP, D. Waktu itu saya dan D sudah kira-kira 6 tahun tidak bertemu bahkan berkabar (oh andai dulu ada internet). Saya hanya tahu kota di mana dia tinggal.
Sejenggal percakapan kami kurang lebih begini;
Saya : Gimana kabar D, Om? (Betul-betul ingin tahu.)
Om S: Baik.
Saya : Di mana dia sekarang? (Pura-pura tidak tahu.)
Om S: Di B. (Sepertinya om S bukan tipe orang yang banyak bicara. Atau, mungkin karena belum kenal saya.)
Saya : Kerja apa? (Kok jadi kepo.)
Om S: Masih ikut orang.
Saya : (Dalam hati: walah Om kok pakai rahasia-rahasiaan segala.) Lho ya kan hampir semua orang ikut orang. (Mencoba berfilsafat...... Gagal.)
Om S: Ada yang ikut kuda.
Saya : Hmm (manthuk-manthuk sambil tersenyum manis. Memang sih kusir dokar ikut kuda. Dalam hati: WKKKK.)
Satu hal yang saya pelajari dari dialog singkat itu: keinginan tulus seorang bapak agar anaknya dalam berkarir tidak bergantung kepada siapapun. Dengan kata lain, “Jadilah seorang wiraswastawan, Anakku.”
Memberi nasihat kepada anak memang mudah. Tetapi, mendidik dan mengarahkan anak untuk mencapai atau mewujudkan nasihat itu jauh lebih sukar.
Saya lalu membayangkan. Pasti si D ini sejak kecil ditempa bapaknya (dan sudah pasti ibunya juga) untuk menjadi pribadi yang tangguh, ulet, sabar, dan sifat-sifat lain (add some yourself) yang diperlukan untuk menjadi wiraswastawan sukses. Yang tidak kalah sukarnya, Om pasti tidak hanya omdo tapi juga memberi contoh, suri tauladan. Hebat.
Angkat topi buat om S. Pasti beliau dan Tante tersenyum bangga melihat dari atas sana keberhasilan D yang sudah menjadi his own boss.
PS: Tahun 2009, thanks to Facebook, saya dan D terhubung kembali. Tahun 2013 kami bertemu di B setelah hampir 24 tahun berpisah. Betapa bahagianya.
Washington, DC
26 April 2018